Debu dan Doa

16 hours ago 5

Ada sebuah foto yang tak bisa saya lupakan — meskipun saya tak pernah benar-benar melihatnya. Seorang perempuan tua di Gaza, atau mungkin di Tehran, atau mungkin di mana saja di mana langit sedang runtuh, berlutut di atas puing. Ia berdoa. Atau mungkin ia hanya kelelahan. Pada titik tertentu, keduanya adalah hal yang sama.


Perang, kata Clausewitz, adalah kelanjutan politik dengan cara lain. Tapi kita hidup di zaman ketika politik sendiri sudah menjadi semacam perang — perang narasi, perang algoritma, perang kebenaran. Maka perang yang sesungguhnya, dengan rudal dan darah dan kota-kota yang menghitam, terasa seperti kelanjutan dari sesuatu yang memang tak pernah berhenti.

Iran dan Israel. Israel dan Amerika. Nama-nama ini dibacakan seperti mantra di ruang-ruang sidang, di studio televisi, di bunker-bunker yang dingin. Tapi di balik nama-nama itu ada wajah-wajah yang tidak pernah masuk ke dalam persamaan diplomatik mana pun.


Saya selalu curiga pada mereka yang bicara perang dengan suara yang terlalu jernih.

Mereka yang memetakan “kepentingan nasional” dengan presisi seorang akuntan. Mereka yang menyebut “serangan terukur” seolah-olah ada ukuran yang adil untuk kehancuran. Mereka yang menghitung korban sipil sebagai variabel, bukan sebagai nama — bukan sebagai seseorang yang pernah punya rencana untuk esok hari.

Kejelasan semacam itu bukan kecerdasan. Itu adalah cara lain untuk tidak merasa.


Yang menggelisahkan bukan hanya perangnya. Yang menggelisahkan adalah bagaimana kita — yang jauh, yang aman, yang masih bisa memilih saluran televisi — menyaksikannya.

Sebagian dari kita marah. Itu baik. Tapi kemarahan yang tidak tahu ke mana pergi akan mencari alamat yang paling mudah dijangkau: orang-orang di sekitar kita yang berbeda keyakinan, berbeda pihak, berbeda algoritma. Perang di sana menjadi perang kecil-kecilan di sini — di kolom komentar, di meja makan, di dalam dada yang menyimpan prasangka lama.

Begitulah perang bekerja. Ia tidak butuh hadir secara fisik untuk merusak.


Ada yang mengatakan ini adalah pertanda akhir zaman. Ada yang mengatakan ini adalah ujian peradaban. Ada yang mengatakan ini adalah konsekuensi logis dari dekade-dekade ketidakadilan yang dibiarkan mengeras.

Mungkin semuanya benar. Mungkin tidak ada yang benar. Sejarah tidak pernah se-rapi tafsirnya.

Yang saya tahu: setiap generasi punya perangnya sendiri, dan setiap generasi merasa perangnya adalah yang paling menentukan. Mungkin itu memang benar. Mungkin itu hanya cara kita bertahan — dengan meyakini bahwa penderitaan kita punya arti, bahwa kehancuran ini bukan sia-sia.


Nuklir. Kata itu kini kembali mengambang di udara seperti abu vulkanik — tidak kelihatan, tapi terasa di paru-paru. Orang-orang menyebutnya dengan nada yang berbeda-beda: ada yang sebagai ancaman, ada yang sebagai gertakan, ada yang sebagai kemungkinan yang “tidak bisa dikesampingkan.”

Tidak bisa dikesampingkan. Frasa birokratis yang paling menakutkan yang pernah diciptakan manusia.

Saya ingat Nagasaki. Bukan karena saya pernah ke sana, tapi karena ada foto seorang anak lelaki yang menggendong adiknya yang sudah mati, berdiri tegak, menunggu giliran kremasi. Fotografer Amerika yang mengambil gambar itu — Joe O’Donnell — menyimpannya selama empat puluh tahun tanpa berani melihatnya lagi.

Itulah yang tidak bisa dikesampingkan: bahwa kita tahu akibatnya, dan kita tetap melanjutkan.


Tapi saya tidak ingin mengakhiri ini dengan kehilangan harapan. Itu terlalu mudah. Keputusasaan adalah kemewahan yang tidak bisa kita bayar.

Di suatu tempat, seorang dokter di Rafah masih beroperasi meski tanpa listrik. Di suatu tempat, seorang guru di Tehran masih mengajarkan puisi Hafez kepada anak-anak yang tidak tahu apakah sekolah masih akan ada minggu depan. Di suatu tempat, seorang jurnalis mengetik di laptop yang hampir kehabisan baterai karena ia percaya bahwa kata-kata masih punya guna.

Itulah yang selalu mengalahkan perang, meskipun sering terlambat: kegigihan kecil yang tidak tercatat dalam sejarah resmi.


Perempuan tua itu — yang berlutut di atas puing, yang berdoa atau mungkin hanya kelelahan — ia tidak peduli dengan peta geopolitik. Ia tidak peduli dengan “keseimbangan kekuatan” atau “deterrence strategy.” Ia hanya ingin rumahnya kembali. Ia hanya ingin cucunya pulang.

Keinginan sesederhana itu, ternyata, adalah hal yang paling sulit dipenuhi oleh peradaban yang mengklaim dirinya modern.

Debu mengendap. Doa-doa naik. Dan kita, yang masih hidup, masih harus memutuskan: di sisi mana kemanusiaan kita berdiri.


“Kita tidak bisa memilih zaman kita. Tapi kita bisa memilih bagaimana kita menghadapinya.”


*Red

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|