Musim yang Tak Kunjung Usai

15 hours ago 5

Ada sesuatu yang terasa ganjil ketika kita membaca berita tentang Hormuz di pagi hari yang masih pagi, lalu melangkah keluar dan mendapati angin yang datang tanpa kesejukan — panas, kering, seperti napas dari mulut yang sudah lama tak minum.

Kemarau belum tiba. Tapi panasnya sudah di sini.

Langit masih sesekali mendung, namun mendungnya mandul — berarak-arak tanpa janji. Tanah belum retak, tapi rumput sudah menguning lebih cepat dari biasanya. Orang-orang di pasar sudah mulai berbicara dengan nada yang sedikit lebih waspada, sedikit lebih hemat: musim ini aneh, kata mereka. Seperti mau kemarau, tapi belum. Seperti menunggu sesuatu yang sudah pasti datang, namun belum mau menyebut namanya.


Di Teluk Persia, api tak juga padam.

Perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah berlangsung cukup lama untuk kehilangan kejutan, namun belum cukup lama untuk melahirkan perdamaian. Ia berada di zona yang aneh: terlalu biasa untuk menjadi berita utama setiap hari, terlalu berbahaya untuk dilupakan. Delegasi-delegasi masih berunding. Gencatan senjata masih diusulkan, lalu runtuh, lalu diusulkan lagi dengan nama yang berbeda. Sementara itu, di Selat Hormuz, kapal-kapal tanker terus berlayar dengan waspada, ditemani kapal-kapal perang, melewati perairan yang ketegangannya sudah menjadi cuaca tersendiri.

Sekitar seperlima minyak dunia melintas di sana.

Angka itu tampak abstrak — sampai kita mengingatnya di depan mesin pengisian bahan bakar, ketika jari kita ragu sebentar sebelum menekan tombol. Harga BBM belum naik. Belum. Tapi kata belum itu sendiri sudah terasa seperti beban — sebuah keniscayaan yang hanya menunggu waktu yang tepat untuk diumumkan, untuk dikemas dalam kalimat tentang “penyesuaian” dan “kondisi global yang dinamis”.

Inilah cara perang menghampiri orang kebanyakan: bukan melalui peluru, melainkan melalui harga. Bukan melalui ledakan, melainkan melalui angka yang bergerak naik di papan-papan yang tak bisa kita tawar.


Kita hidup di era di mana bencana bekerja secara berlapis, dan kesabarannya luar biasa.

Panas yang kita rasakan pagi ini berhubungan dengan karbon yang selama ini dibakar — oleh industri, oleh pembangkit listrik, oleh kendaraan yang minum BBM yang harganya belum naik, tapi akan. Perang di Timur Tengah berhubungan dengan minyak — selalu, pada akhirnya, berhubungan dengan minyak. Dan minyak berhubungan dengan kemarau, karena kemarau yang makin panjang dan makin dalam juga adalah — antara lain — buah dari dunia yang terlalu lama bergantung pada apa yang dibakar dari perut bumi.

Maka tiga hal yang tampaknya terpisah itu — panas yang datang lebih awal, kenaikan BBM yang menunggu di ujung kalender, perang yang tak ada tanda-tandanya untuk usai — sebenarnya adalah satu tubuh dengan tiga wajah. Tubuh itu bernama ketergantungan: pada bahan bakar fosil, pada stabilitas geopolitik yang semakin rapuh, pada pertumbuhan yang mensyaratkan konsumsi tanpa henti.

Dan tubuh itu sedang menunjukkan gejala-gejalanya.


Yang paling berat mungkin bukan soal harga. Yang paling berat adalah ketidakpastian itu sendiri — kondisi di mana kita tahu sesuatu yang buruk sedang bergerak ke arah kita, tapi tidak tahu persis kapan ia akan tiba dan seberapa keras ia akan memukul.

Kemarau yang belum resmi datang namun sudah terasa. Kenaikan BBM yang belum diumumkan namun sudah dihitung-hitung di meja dapur. Perang yang belum usai dan sepertinya tak akan usai dalam waktu dekat. Semuanya menggantung — dan menggantung, kadang, lebih melelahkan daripada jatuh.

Orang-orang tetap berangkat kerja. Ibu-ibu tetap belanja di pasar, meski dengan perhitungan yang lebih ketat. Petani tetap melihat ke langit, membaca awan dengan penuh harap. Hidup terus berjalan — sebab apa pilihan lain yang ada?


Di luar jendela, langit masih putih pucat.

Hujan belum datang. Damai belum datang. Dan harga — kita semua tahu — tidak akan turun.

Maka kita tunggu. Bukan karena menunggu adalah pilihan terbaik, melainkan karena itulah yang tersisa ketika segalanya berada di luar jangkauan: kita yang kecil, di antara kemarau yang mengintip, perang yang berkepanjangan, dan keniscayaan yang mendekat perlahan — seperti musim yang sudah kita kenal baunya, tapi belum mau kita sebut namanya.


*Red

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|