News Avoidance dan Budaya Digital

8 hours ago 5
Ilustrasi gambar ini merupakan hasil visualisasi berbasis kecerdasan buatan (AI) menggunakan ChatGPT untuk mendukung tulisan tentang fenomena news avoidance dan budaya digital.

Oleh: M Djufri Rachim (Jurnalis dan Dosen pada Prodi Jurnalistik FISIP Universitas Halu Oleo)

Di era digital, manusia hidup di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti. Berita hadir setiap saat melalui telepon genggam, media sosial, notifikasi aplikasi, video pendek, hingga percakapan daring.

Jika pada masa lalu orang harus membeli koran atau menonton televisi untuk mengetahui peristiwa terbaru, kini informasi datang sendiri tanpa diminta. Namun di tengah melimpahnya akses tersebut, muncul fenomena yang menarik, orang justru mulai memilih menghindari berita. Fenomena ini dikenal sebagai news avoidance.

News avoidance adalah kecenderungan seseorang untuk menjauh dari berita, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Ada orang yang secara sadar berhenti membaca berita karena merasa lelah, stres, atau muak terhadap situasi sosial dan politik. Ada pula yang tidak mengikuti berita karena perhatian mereka terserap oleh bentuk konten digital lain seperti TikTok, streaming, atau media sosial.

Dalam konteks budaya digital, news avoidance bukan sekadar tanda kemalasan membaca informasi, melainkan bagian dari perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi dengan media.

Budaya digital telah mengubah pola konsumsi informasi secara mendasar. Media sosial bekerja dengan sistem algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Konten yang cepat, emosional, lucu, dan mudah dikonsumsi cenderung lebih diutamakan dibanding berita yang panjang dan membutuhkan konsentrasi.

Akibatnya, banyak orang lebih terbiasa menikmati video berdurasi singkat atau potongan informasi daripada membaca laporan mendalam. Dalam situasi seperti ini, berita sering dianggap terlalu berat, rumit, dan melelahkan.

Selain itu, budaya digital juga menciptakan kondisi yang disebut information overload atau kelebihan informasi. Setiap hari pengguna internet dibanjiri berita tentang konflik politik, perang, krisis ekonomi, bencana, hingga kontroversi publik. Arus informasi yang terus-menerus membuat banyak orang mengalami kelelahan mental.

Media sosial memperparah keadaan karena berita negatif muncul berdampingan dengan hiburan dalam satu layar yang sama. Seseorang bisa membuka aplikasi untuk mencari hiburan, tetapi langsung disuguhi kabar kekerasan, perdebatan politik, atau komentar penuh kemarahan. Kondisi ini memunculkan rasa jenuh dan mendorong orang untuk menjauh dari berita demi menjaga kesehatan emosional mereka.

Fenomena tersebut berkaitan erat dengan budaya doomscrolling, yaitu kebiasaan terus menggulir berita negatif tanpa henti di media digital. Semakin lama seseorang mengonsumsi berita yang memicu kecemasan, semakin besar kemungkinan muncul rasa takut, marah, atau putus asa. Dalam kondisi seperti ini, news avoidance sering menjadi mekanisme perlindungan diri. Orang merasa bahwa menghindari berita adalah cara untuk mengurangi stres dan menjaga kesehatan mental.

Di sisi lain, rendahnya kepercayaan terhadap media juga memperkuat news avoidance. Di era digital, siapa pun dapat memproduksi dan menyebarkan informasi. Akibatnya, batas antara fakta, opini, dan hoaks menjadi semakin kabur. Banyak orang merasa sulit membedakan berita yang benar dan yang menyesatkan. Ketika media dianggap bias atau tidak dapat dipercaya, sebagian masyarakat memilih untuk berhenti mengikuti berita sama sekali. Mereka merasa bahwa terlalu banyak informasi justru membuat bingung dan tidak memberikan kepastian.

Budaya digital juga mendorong munculnya perhatian yang semakin pendek (short attention span). Kebiasaan mengonsumsi video singkat dan konten cepat membuat sebagian orang sulit bertahan membaca berita panjang atau analisis mendalam. Informasi akhirnya lebih sering diterima dalam bentuk potongan video, meme, atau komentar influencer. Akibatnya, pemahaman masyarakat terhadap isu publik menjadi dangkal karena informasi diperoleh tanpa konteks yang utuh.

Meskipun demikian, news avoidance tidak selalu bersifat negatif. Dalam batas tertentu, membatasi konsumsi berita dapat membantu seseorang menjaga kesehatan mental dan mengurangi kecemasan. Banyak orang kini mencoba mengatur pola konsumsi media dengan cara mengurangi notifikasi berita, membatasi waktu penggunaan media sosial, atau memilih membaca berita hanya pada waktu tertentu. Langkah ini menunjukkan bahwa masyarakat sedang berusaha mencari keseimbangan antara kebutuhan untuk tetap terinformasi dan kebutuhan untuk menjaga kondisi psikologis mereka.

Namun, jika news avoidance dilakukan secara berlebihan, dampaknya dapat menjadi masalah sosial. Masyarakat yang terlalu jauh dari berita berisiko kehilangan pemahaman terhadap isu publik dan menjadi lebih mudah dipengaruhi disinformasi. Demokrasi membutuhkan warga yang memiliki akses dan perhatian terhadap informasi publik. Ketika masyarakat lebih banyak memperoleh informasi dari potongan media sosial daripada berita yang utuh, kualitas diskusi publik juga dapat menurun.

Pada akhirnya, fenomena news avoidance menunjukkan paradoks budaya digital. Teknologi memberikan akses informasi yang sangat luas, tetapi pada saat yang sama menciptakan kelelahan, distraksi, dan kejenuhan terhadap informasi itu sendiri. Tantangan utama masyarakat modern bukan lagi kekurangan berita, melainkan bagaimana mengelola banjir informasi agar tetap sehat secara mental sekaligus tetap sadar terhadap realitas sosial di sekitarnya. ([email protected])

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|