Warga Lingkar Tambang dan Korban Penggusuran Lahan di Sultra Ikuti Pelatihan Jurnalisme Warga

4 hours ago 4
Keterangan Foto: M Djufri Rachim ketika membawakan materi pada Pelatihan Jurnalisme Warga, Jumat (15 Mei 2026). Foto: AJI Kendari

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Warga lingkar tambang dan korban penggusuran lahan dari beberapa wilayah di Sulawesi Tenggara (Sultra) mengikuti pelatihan jurnalisme warga di salah satu hotel di Kota Kendari. Kegiatan ini diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kendari bekerjasama dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sultra, yang berlangsung selama dua hari dimulai pada Jumat 15 Mei 2026

Ketua AJI Kota Kendari Nursadah mengatakan, di tengah maraknya Industri tambang dan perkebunan sawit di Sultra, banyak peristiwa dan isu menarik yang penting diketahui publik. Hanya saja, terkadang luput dari jangkauan jurnalis media arus utama karena terkendala akses wilayah.

Dengan demikian, warga yang memiliki akses terdekat di lingkungannya masing-masing, penting memahami jurnalisme warga agar dapat menyajikan informasi yang memenuhi standar jurnalistik.

“Perlu diketahui bahwa kerja-kerja jurnalisme warga juga dituntut untuk tetap taat kode etik jurnalistik. Informasi yang disampaikan adalah kebenaran dan sesuai fakta, sehingga tidak memicu hoax yang dapat menimbulkan masalah bagi jurnalis warga itu sendiri,” kata Nursadah.

Dosen Prodi Jurnalistik Universitas Halu Oleo UHO, M Djufri Rachim, yang menjadi salah satu pemateri pelatihan juga menyampaikan bahwa di era kemajuan teknologi, akses informasi publik semakin terbuka. Namun, dengan memahami jurnalisme warga, kemampuan dan kapasitas warga semakin kuat dalam menyampaikan informasi yang lebih bertanggung jawab.

“Dengan memahami jurnalisme warga, kita dapat memastikan bahwa setiap informasi yang kita sampaikan itu adalah kebenaran dan fakta, bukan opini,” ujar Djufri Rachim yang juga Pemred SultraKini.com.

Demikian halnya ditekankan jurnalis CNN, Zainal Izhak, yang juga menjadi salah satu pemateri dalam pelatihan tersebut. Ditegaskan, seperti jurnalis pada umumnya, jurnalis warga juga harus bisa memetakan isu penting dan menarik hingga layak menjadi sebuah berita.

“Begitu pun teknik wawancara hingga pengambilan gambar yang baik juga harus benar-benar dipahami,” tegasnya.

Direktur WALHI Sultra, Andi Rahman berharap, setelah mengikuti pelatihan, warga yang paling dekat dengan fakta di lapangan, dapat memahami dasar-dasar penulisan hingga dokumentasi sesuai dengan kode etik jurnalistik.

“WALHI berkolaborasi dengan AJI mengadakan pelatihan ini untuk memperkuat kapasitas masyarakat agar bisa melaporkan kondisi, mendokumentasikan pelanggaran HAM atau kerusakan lingkungan yang dihadapi, karena tantangan kita selama ini sering kali lalai didokumentasi,” ucap Andi Rahman.

Salah satu peserta, Nurjayah mengatakan, setelah mengetahui dasar-dasar peliputan, mulai wawancara, pengumpulan data, teknik dokumentasi hingga penulisan, membuatnya lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi. Terlebih, mereka berhadapan langsung dengan pihak-pihak perusahaan yang melanggar HAM dan penyebab kerusakan lingkungan.

“Sebelumnya kami tidak tahu perlindungan hukumnya bagaimana ke depannya karena saya warga, bukan jurnalis, tapi setelah tahu ini kami jadi lebih berhati-hati lagi menyampaikan informasi agar tidak terjerat hukum,” kata Nurjayah.

Peserta lainnya, Azis juga mengaku pelatihan ini memberikan pondasi baginya dalam menyuarakan dampak kerusakan lingkungan di wilayahnya.

Laporan: Riswan

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|