SULTRAKINI.COM: KENDARI – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Kendari sejak beberapa hari terakhir terus menimbulkan dampak luas bagi masyarakat. Berdasarkan data terbaru yang masuk di Pusdalops BPBD Provinsi Sulawesi Tenggara per 13 Mei 2026, tercatat sebanyak 1.339 kepala keluarga (KK) atau 5.445 jiwa di Kota Kendari yang terdampak akibat banjir yang dipicu curah hujan tinggi.
Selain merendam permukiman warga, bencana ini juga berdampak pada fasilitas umum dan sektor pendidikan. BPBD mencatat sedikitnya dua unit sekolah ikut terdampak banjir. Genangan air masih terlihat di sejumlah titik, terutama di kawasan padat penduduk yang berada di daerah rawan banjir dan dekat aliran sungai.
Kepala BPBD Provinsi Sulawesi Tenggara, La Ode Saifuddin, mengatakan banjir yang terjadi di Kendari menjadi perhatian serius karena dampaknya cukup besar terhadap masyarakat. Bahkan, dalam peristiwa tersebut dilaporkan terdapat korban jiwa.
“Berdasarkan data dari BPBD Kota Kendari, korban jiwa tercatat dua orang. Satu korban dewasa ditemukan di Lorong Lasolo, sementara satu korban lainnya merupakan anak-anak yang dilaporkan tenggelam saat berenang di Kelurahan Benu-Benua depan PPLP Dayung,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Rabu (13/5/2026).
Ia menjelaskan, banjir yang terjadi tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya intensitas hujan, tetapi juga dipicu berbagai faktor lain seperti buruknya sistem drainase, pendangkalan sungai, penyempitan daerah resapan air, hingga pembangunan di kawasan rawan banjir. Selain itu, beberapa tanggul juga dilaporkan mengalami kerusakan dan jebol pada bagian pintu air.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat air dengan cepat meluap dan masuk ke kawasan permukiman warga. Sejumlah wilayah di Kecamatan Baruga, Poasia, Kambu, Kadia, hingga Kendari Barat menjadi daerah yang terdampak cukup parah akibat genangan air yang terus meningkat dalam beberapa hari terakhir.
BPBD Sultra juga menyebut kawasan di sekitar Kali Wanggu menjadi salah satu wilayah yang paling merasakan dampak banjir. Tingginya debit air menyebabkan sejumlah permukiman di area tersebut terendam dan aktivitas warga terganggu selama beberapa hari terakhir.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara bersama BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, TNI, Polri, Basarnas, Balai Wilayah Sungai (BWS), dan para relawan saat ini masih terus melakukan penanganan di lapangan. Proses evakuasi warga terdampak, distribusi bantuan, hingga pelayanan kesehatan darurat terus dilakukan untuk membantu masyarakat yang terdampak banjir.
Selain itu, sejumlah posko darurat juga telah didirikan di beberapa titik terdampak. Pemerintah bersama tim gabungan menyiapkan dapur umum, posko kesehatan, dan posko keamanan guna memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat berlangsung.
Setelah dilakukan konfirmasi kembali terkait fasilitas pendidikan yang terdampak banjir, BPBD Sultra menyebut salah satu lokasi yang paling terdampak berada di kawasan Wanggu, yakni Pondok Pesantren Nurul Magfirah di Jalan H. Lamuse, Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari.
Informasi tersebut turut dibenarkan oleh Lurah Lepo-Lepo, Ridlan Nurung. Ia menjelaskan bahwa lokasi tersebut merupakan pondok pesantren yang menaungi jenjang pendidikan mulai dari TK hingga SMP.
“Namanya Nurul Magfirah, itu pesantren pak, gabungan dari TK sampai SMP. Tidak ada kalau sekolah umum,” jelas Ridlan Nurung saat dikonfirmasi, Kamis (14/5/2026).
La Ode Saifuddin menilai, langkah cepat penanganan yang dilakukan lintas instansi patut diapresiasi. Namun demikian, ia menegaskan bahwa penanganan banjir di Kota Kendari tidak cukup hanya dilakukan saat bencana terjadi, melainkan membutuhkan solusi jangka panjang yang berkelanjutan.
“Ke depan perlu dilakukan normalisasi sungai, perbaikan drainase, penghijauan, serta peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan,” jelasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan. Warga diminta terus memperhatikan informasi dan peringatan dini dari BMKG maupun BPBD setempat guna mengurangi risiko saat terjadi bencana hidrometeorologi.
“Sebagai masyarakat kita harus saling membantu warga terdampak agar proses pemulihan bisa berjalan lebih cepat. Semoga kondisi di Kendari segera pulih dan kejadian serupa dapat diminimalkan di masa mendatang,” tutupnya.
Laporan: Andi Mahfud

1 day ago
5

















































