SULTRAKINI.COM: KENDARI — Muhammad Akbar, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Halu Oleo (UHO), dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik pada Wisuda Hari Ketiga UHO Gelombang II Tahun 2025 yang digelar di Auditorium Mokodompit, Selasa (11/11/2025).
Dari total 736 wisudawan yang diwisuda pada hari tersebut, Akbar menorehkan prestasi membanggakan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98, predikat Pujian, dan lama studi 4 tahun 0 bulan. Ia menyelesaikan ujian skripsinya pada 31 Juli 2025, menjadi salah satu lulusan tercepat dan terbaik di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Lahir di Baubau, 10 Oktober 2004, Akbar merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, pasangan Nasiruddin Adi dan Sarimah.
Dalam sambutannya mewakili seluruh wisudawan, Akbar membuka pidatonya dengan sapaan hangat dan penghormatan kepada Rektor UHO, para pimpinan senat, tamu undangan, serta seluruh sivitas akademika dan orang tua wisudawan. Ia menyampaikan rasa syukur mendalam atas kesempatan berdiri di hadapan ribuan orang dengan toga kebanggaan.
“Alhamdulillahirabbilalamin, segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat hadir pada hari ini memakai toga kebanggaan di kepala kita dan mewujudkan keinginan orang tua kita,” ucap Akbar di hadapan hadirin.
Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh sivitas akademika—mulai dari rektor, dekan, dosen, staf administrasi, hingga petugas keamanan dan kebersihan—atas dedikasi mereka dalam mendidik mahasiswa dengan nilai-nilai keilmuan dan kejujuran.
“Terima kasih kepada Universitas Halu Oleo yang telah menjadi rumah kedua bagi kami, tempat kami tumbuh, belajar, jatuh, lalu bangkit kembali,” ujarnya penuh makna.
Bagian paling menyentuh dari pidatonya adalah ketika Akbar menuturkan kisah-kisah sederhana yang mencerminkan perjuangan banyak mahasiswa selama menempuh pendidikan. Dengan suara bergetar, ia menggambarkan pengorbanan orang tua yang bekerja keras demi pendidikan anak-anaknya.
“Ada ayah yang bekerja sebagai buruh kasar dari pagi hingga malam, menahan lelah agar anaknya tidak lelah dalam berkuliah. Ada ibu yang menahan lapar, menabung dari uang belanja seadanya hanya agar bisa mengirimkan uang kos atau uang skripsi,” tutur Akbar, disambut haru hadirin.
Ia melanjutkan dengan mengingat pesan sederhana dari orang tua saat melepas anaknya merantau: “Belajarlah yang baik, Nak, jangan sia-siakan harapan dan doa kami.” Menurutnya, meski para orang tua tampak tegar di pelabuhan atau di depan rumah, di malam-malam sepi mereka sujud dan berdoa agar anak-anaknya kuat dan sukses.
“Mereka rela menahan mimpi-mimpi mereka agar mimpi anak-anaknya bisa terwujud,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Akbar juga menyinggung realitas kehidupan mahasiswa yang harus berjuang sendirian untuk menyelesaikan kuliah.
“Ada yang kuliah sambil bekerja karena orang tua tak lagi mampu membiayai, atau bahkan karena kedua orang tuanya sudah tiada. Ada yang hidup sederhana, menumpang di rumah orang, makan seadanya, bahkan memetik kangkung liar, daun ubi, atau kelor di sekitar kampus. Kita semua tahu, ayam geprek sepuluh ribu di depan kampus telah menjadi saksi bisu betapa nyata perjuangan kita,” katanya, disambut tawa haru para wisudawan.
Ia menegaskan bahwa setiap kisah kecil perjuangan itulah yang menjadikan hari wisuda terasa begitu bermakna.
“Di balik toga dan senyum bahagia kita hari ini, ada jutaan pengorbanan yang tak terlihat. Ada ratusan liter air mata dan darah dari keluarga kita,” ucapnya penuh emosi.
Menutup sambutannya, Akbar mengajak seluruh wisudawan untuk menjadikan kelulusan ini sebagai awal pengabdian baru bagi masyarakat, bangsa, dan agama.
“Hari ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan yang baru. Dunia di luar sana menanti kontribusi kita. Kesuksesan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa besar manfaat yang kita berikan,” tegasnya.
“Semoga langkah kita ke depan senantiasa diberkahi, menjadi generasi muda yang berdaya saing, berintegritas, dan membawa perubahan positif untuk bangsa, negara, dan agama,” lanjutnya.
“Terima kasih semuanya. Terima kasih kampus kami tercinta. UHO bisa jagat kita. Billahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Pidato penuh haru dan semangat tersebut mengundang tepuk tangan panjang dari seluruh hadirin. Rektor UHO, Dr. Herman, S.H., LL.M., turut memberikan apresiasi atas capaian akademik dan keteladanan yang ditunjukkan Muhammad Akbar sebagai simbol generasi muda UHO yang berprestasi, berkarakter, dan siap bersaing menuju Indonesia Emas 2045.
Laporan: Andi Mahfud

2 weeks ago
23















































