Menjadi Hebat Tanpa Menyakiti: Revitalisasi Nilai Moral di Kalangan Pelajar

3 weeks ago 24

Oleh: Abdul Ghafur Ryzki Shaleh (Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia – MAN IC Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara)

Di era digital saat ini, pelajar menghadapi tantangan besar terkait penurunan kualitas interaksi sosial dan nilai-nilai kehidupan. Fenomena melemahnya etika keseharian semakin tampak dalam dinamika sekolah, ditandai dengan bergesernya nilai kejujuran, rasa hormat, dan kepedulian—yang sejatinya menjadi fondasi dalam hidup bermasyarakat.

Alih-alih tumbuh dalam suasana yang kolaboratif dan inklusif, sebagian siswa justru terdorong untuk menunjukkan keunggulan pribadi melalui cara-cara yang tidak sehat. Media sosial turut memperparah situasi, karena seringkali mengangkat konten-konten yang cenderung melemahkan semangat empati, seperti ejekan, perbandingan berlebihan, dan sikap merendahkan orang lain. Akibatnya, sekolah yang seharusnya menjadi tempat bertumbuh bersama, malah menjadi arena kompetisi yang penuh tekanan sosial.

Realitas ini menunjukkan bahwa revitalisasi nilai moral bukan sekadar gagasan ideal, tetapi sebuah kebutuhan mendesak. Kita semua—keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat—bertanggung jawab menghidupkan kembali nilai-nilai luhur agar peserta didik tumbuh menjadi insan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat.

Salah satu tantangan terbesar yang sering dijumpai di lingkungan sekolah adalah rendahnya kemampuan untuk saling menghargai perbedaan—baik dalam berpendapat, karakter, maupun latar belakang sosial. Isu ini kerap dianggap sepele, namun faktanya dapat menjadi akar dari munculnya sikap tertutup, ketidakterlibatan sosial, dan kesenjangan psikologis antarsiswa.

Misalnya, dalam diskusi kelas, siswa yang memiliki pandangan unik kerap disela atau tidak dianggap serius. Di luar kelas, perbedaan dalam cara berpakaian, berbicara, atau minat hobi menjadi bahan komentar yang tidak membangun. Padahal, setiap individu berhak merasa diterima dan dihargai.

Untuk menjawab tantangan tersebut, saya menginisiasi program edukatif berbasis praktik bernama SPECTA (Speak & Empathy Class for Teen Awareness). Program ini dirancang sebagai ruang belajar sosial yang menyenangkan dan menyentuh ranah emosional siswa. Tidak berisi ceramah panjang, melainkan menggunakan metode partisipatif seperti role-playing, simulasi interaksi sosial, dan forum diskusi terbuka.

Melalui SPECTA, siswa diajak untuk menempatkan diri dalam situasi sosial tertentu di sekolah, kemudian merefleksikan perasaan mereka, baik sebagai subjek maupun objek interaksi. Dari proses ini, tumbuhlah empati yang alami—bukan karena paksaan, melainkan karena pengalaman langsung.

Dukungan terhadap pendekatan ini diperkuat oleh hasil studi dari Harvard Graduate School of Education (2019) yang menunjukkan bahwa program pendidikan berbasis empati dan permainan peran berhasil menurunkan kecenderungan perilaku verbal yang tidak konstruktif hingga 30% di lingkungan sekolah. Di Indonesia, pendekatan serupa pernah diterapkan melalui program Kelas Inspirasi Emosi oleh sejumlah komunitas pendidikan, dan terbukti membuat siswa lebih terbuka serta sadar akan perasaan teman-temannya.

Permasalahan moral di lingkungan pelajar adalah isu nyata yang membutuhkan penanganan berbasis pendekatan humanistik. Maka dari itu, program seperti SPECTA menjadi sangat relevan untuk diterapkan secara luas di berbagai satuan pendidikan. Ia bukan hanya menyasar aspek kognitif, tetapi juga menumbuhkan kecerdasan emosional dan kepekaan sosial.

Generasi cerdas tidak hanya ditandai oleh prestasi akademik semata, melainkan juga oleh ketulusan dalam berinteraksi, kematangan berpikir, serta integritas dalam bertindak. Maka, menjadi hebat tidak perlu menyakiti. Menjadi unggul tidak harus merendahkan. Dengan revitalisasi nilai-nilai moral, sekolah akan kembali menjadi ruang aman, nyaman, dan manusiawi untuk semua. ***

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|