Mencetak CEO dari Tenda Pramuka

2 weeks ago 16

Oleh: Linda F Saleh (Kepala Bidang Kekayaan Intelektual Kanwil Kementerian Hukum Sulawesi Tenggara)

Peran Gerakan Pramuka dalam Membentuk Mental Proaktif dan Jiwa Kewirausahaan Sejak Dini

 Di balik tenda dan api unggun, Gerakan Pramuka sedang menyiapkan generasi yang tangguh, kreatif, dan siap memimpin. Ketika banyak anak muda sibuk menatap layar ponsel, jutaan anggota Pramuka justru berlatih merancang acara, mengatur logistik, memimpin tim, dan memecahkan masalah keterampilan yang sama dibutuhkan untuk membangun bisnis.

Seiring perkembangan zaman yang menuntut adaptasi cepat dan kecakapan hidup (life skills), Gerakan Pramuka hadir sebagai laboratorium karakter dan keterampilan. Sejak dini, jutaan anggotanya telah terbiasa merancang kegiatan, mengatur logistik, membuat kerajinan, hingga memimpin tim aktivitas yang sejatinya tak jauh berbeda dengan mengelola sebuah usaha.

Potensi yang Tersembunyi

Pada tahun ini, jumlah anggota Gerakan Pramuka Indonesia sekitar 25 juta orang, menjadikannya salah satu organisasi kepramukaan terbesar di dunia, yang diakui oleh World Organization of the Scout Movement (WOSM).

Sekitar 95% anggota adalah peserta didik usia sekolah, sesuai dengan data yang berasal dari total jumlah siswa sekolah menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Angka ini menegaskan keberadaan basis anggota yang sangat besar di kalangan pelajar.

Organisasi Pramuka Indonesia kini semakin diperkuat dari sisi pendidikan karakter, kepemimpinan, dan keterampilan kewirausahaan sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi muda yang mandiri dan berdaya saing global.

Kebijakan terbaru di tahun 2025 juga menetapkan Pramuka sebagai ekstrakurikuler pilihan bagi siswa sekolah dasar hingga menengah, sehingga potensi pertumbuhan dan kualitas anggota semakin terjamin.

Pramuka Miniatur Dunia Usaha

Bagi sebagian orang, kegiatan Pramuka identik dengan baris-berbaris, tali-temali, dan api unggun. Namun, jika diamati lebih dalam, setiap aktivitas kepramukaan sejatinya adalah simulasi nyata dari dunia usaha. Mulai dari membuat kerajinan tangan, mengelola perkemahan, hingga menyusun rencana acara, semua melibatkan unsur yang sama dengan proses bisnis: perencanaan, pembagian peran, eksekusi, hingga evaluasi.

Ketika sebuah regu Pramuka diminta menggelar perkemahan, mereka harus menyusun rencana detail: menentukan lokasi, menghitung kebutuhan logistik, mengatur jadwal kegiatan, dan menyiapkan peralatan. Ini serupa dengan business planning dalam sebuah perusahaan. Lalu, pembagian tugas di antara anggota regu mencerminkan manajemen sumber daya manusia, siapa yang bertanggung jawab di dapur umum, siapa yang mengurus perlengkapan, siapa yang menjadi pemimpin regu.

Dalam pelaksanaannya, selalu ada tantangan yang harus dipecahkan. Keterbatasan dana, peralatan yang kurang, atau cuaca yang tidak mendukung, mengajarkan mereka seni problem solving dan adaptasi. dua kemampuan vital yang membedakan wirausaha tangguh dari yang biasa-biasa saja. Bahkan, prinsip time management ikut dilatih ketika kegiatan harus berjalan sesuai jadwal meski hambatan datang silih berganti.

Nilai-nilai seperti planning, kepemimpinan, kerja sama tim, dan kemampuan menyelesaikan masalah menjadi pondasi yang tak ternilai. Banyak alumni Pramuka yang kemudian menyadari, keterampilan yang mereka gunakan dalam dunia profesional saat ini, mulai dari bernegosiasi dengan rekan kerja atau klien, mengatur keuangan proyek, hingga berpikir kreatif mencari peluang, berakar dari pengalaman mereka di bumi perkemahan.

Lebih dari itu, Pramuka juga melatih sense of ownership terhadap tugas yang diemban. Setiap anggota bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan proyek mereka, sebagaimana seorang pengusaha memikul tanggung jawab penuh terhadap usahanya. Dalam skala kecil, regu Pramuka sudah menjalankan “mini start-up” mereka sendiri, dengan semua tantangan dan dinamika yang menyertainya.

Inilah mengapa Pramuka layak disebut miniatur dunia usaha. Ia adalah ruang aman untuk mencoba, gagal, belajar, lalu bangkit Kembali tanpa risiko besar, namun dengan pelajaran yang sangat berharga. Bekal inilah yang membuat banyak mantan anggota Pramuka lebih siap terjun ke dunia bisnis, karena mereka telah lama mempraktikkan esensi kewirausahaan, berani mengambil inisiatif, kreatif dalam mencari solusi, dan pantang menyerah sampai tujuan tercapai.

Penggerak Ekonomi Lokal

Di banyak daerah, Pramuka aktif mengikuti pameran, bazar, dan kegiatan sosial yang mempromosikan produk UMKM. Peran ini bisa lebih diperkuat dengan mendorong anggota untuk membuat produk khas daerah, mengelola pemasaran digital, hingga mengembangkan merek mereka sendiri.

Bayangkan sinergi antara Pramuka, pemerintah daerah, dan pelaku usaha lahir inkubator bisnis muda berbasis komunitas yang mengajarkan keterampilan bisnis modern tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur kepramukaan.

Baden Powell dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Banyak tokoh kepramukaan meninggalkan pesan yang melampaui zaman, seolah menjadi kompas moral bagi setiap anggota yang pernah mengikatkan syal di lehernya. Baden-Powell, pendiri Gerakan Pramuka Dunia, pernah berkata: “The boy is not governed by don’t, but led on by do”. anak tidak dituntun oleh kata “jangan”, tetapi diarahkan oleh kata “lakukan”. Pesan bermakna bahwa Pramuka adalah tentang mengajak bergerak, bukan menahan Langkah tetapi tentang memberi teladan, bukan sekadar memberi larangan.

Di tanah air, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Bapak Pramuka Indonesia, menegaskan nilai keberanian: “Jadilah ksatria yang berani membela kebenaran, bukan sekadar pencari kenyamanan.” Dalam dunia yang sering tergoda untuk memilih jalan aman, pesan ini menjadi pengingat bahwa integritas dan keberanian adalah harga yang tak boleh ditawar.

Dan ada pula kata bijak yang telah lama bergaung di bumi perkemahan: “Ajarkan Pramuka bukan bagaimana mencari nafkah, tetapi bagaimana cara hidup.” Kalimat ini memisahkan Pramuka dari sekadar pelatihan keterampilan teknis, ia adalah pendidikan untuk menjadi manusia yang utuh, mandiri, peduli, dan berkarakter.

Tradisi yang Bertemu Inovasi

Memasuki era digital, peluang Pramuka untuk menjadi katalis wirausaha muda semakin terbuka. Keterampilan membuat produk kini bisa diperluas dengan pemasaran online. Pengalaman mengatur acara bisa diubah menjadi bisnis event organizer profesional. Bahkan, kreativitas konten bisa dijadikan digital story telling yang mempromosikan pariwisata daerah.

Pramuka hanya perlu satu langkah besar: mengintegrasikan literasi bisnis, keterampilan digital, dan wawasan kewirausahaan ke dalam kegiatannya. Dengan begitu, setiap kegiatan bukan hanya mengasah mental juang, tetapi juga melatih kemampuan berbisnis.

Gerakan Pramuka memiliki modal sosial yang tak ternilai, mulai dari jutaan anggota muda, jaringan nasional, hingga tradisi pembelajaran karakter. Potensi ini, jika dikelola dengan visi kewirausahaan, bisa melahirkan generasi yang tidak hanya siap menghadapi tantangan, tetapi juga menciptakan peluang.

Pramuka bukan hanya simbol pengabdian atau nostalgia masa sekolah. Ia adalah mesin perubahan penggerak ekonomi kreatif yang akarnya tertanam dalam nilai-nilai luhur, tetapi cabangnya menjulang ke masa depan. Dari barisan inilah, wirausaha muda kreatif Indonesia akan lahir, membawa bendera Merah Putih di pasar global. ***

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|