Gambar: Ibu Marni (50) kini mencari kayu bakar karena sawahnya seluas sepetak yang terendam lumpur tak lagi dapat menghidupinya. (Foto: Anti)
Dari Mengurus Sawah Menjadi Karyawan Katering Makanan Karyawan IPIP
SULTRAKINI.COM: Tengah malam buta, ketika semua orang tertidur lelap, sekitar pukul 11.00 malam, Fatmawati (39) bersiap-siap berangkat kerja mengais rezeki tambahan untuk menghidupi keluarganya. Ia berjalan dengan tegar menuju tempat kerjanya yang tak jauh dari rumah, bekerja sebagai juru masak katering karyawan lokal IPIP. Ia mulai bekerja pukul 11.00 malam hingga pukul 09.00 pagi, saat makanan sudah siap didistribusikan kepada seluruh karyawan yang mengerjakan konstruksi bangunan IPIP di wilayah Desa Oko-Oko.
Setelah bekerja seharian membantu suami di sawah dan mengurus empat anak hingga magrib, pada pukul 21.00 ia tidur dan bangun kembali pukul 23.00 untuk bersiap menuju perusahaan katering milik ibu desa Oko-Oko.

Siklus kerja seperti itu sudah ia jalani selama lima bulan terakhir, dengan terpaksa, karena sumber penghidupannya kini tak ada lagi. Sawah yang digarap bersama suami dan pekarangan rumah tempat mereka menanam palawija untuk dijual kini telah terendam lumpur dan debu tambang. “Saya terpaksa mengambil pekerjaan sebagai tukang masak untuk karyawan IPIP demi mendapatkan penghasilan. Sawah tidak bisa lagi diharap; sawah berlumpur, padi kerdil, tidak bisa normal seperti dulu sebelum IPIP masuk. Dulu padi sehat, hasilnya lumayan untuk sekolahkan anak. Sekarang kerdil, hasilnya menurun, bahkan kebutuhan dapur tidak terpenuhi,” katanya.
Fatmawati adalah satu dari puluhan perempuan di Desa Oko-Oko yang kini menjalani kehidupan dengan beban berlipat. Sejak proyek konstruksi PT IPIP dimulai pada akhir 2023 hingga 2025 sekarang, sawah dan kebun sayur yang menjadi sumber pangan dan penghasilan keluarga berubah menjadi hamparan lumpur tak berguna.
Masa Tua yang Dikepung Lumpur Merah dan Debu
Bara (56), perempuan Dusun Dua Lawania lainnya yang telah lama hidup tanpa pendamping, menatap getir hamparan sawahnya seluas satu hektare. Sawah yang digarap orang lain itu kini terendam lumpur merah kiriman banjir dari hulu Sungai Oko-Oko. Sejak pembangunan IPIP di hulu sungai, sawah itu tak lagi bisa diharapkan.

“Sawah satu hektare itu digarap orang lain karena saya tidak bisa lagi bekerja. Hasilnya kami bagi, itulah sumber penghidupan saya. Sehari-hari saya di rumah jaga cucu. Untuk belanja kebutuhan dapur, anak saya yang memberikan dari hasil kerjanya di toko. Itu membebani saya,” katanya terisak.
Sejak pembangunan konstruksi PT IPIP menggila, kehidupan perempuan-perempuan Oko-Oko berbalik arah. Lahan subur yang menjadi tumpuan hidup mereka berubah menjadi lumpur tak produktif. Alih-alih merawat padi, kini mereka memerangi lumpur yang menyusup ke setiap celah kehidupan.
Sawah Terendam Lumpur, Kesehatanpun Ikut Terganggu Akibat Debu Tambang
Di rumah panggung Marni (50), ia terlihat sibuk menguras air merah di lantai bawah rumah, kiriman banjir dari hulu. Air banjir yang masuk itu baru ia bersihkan karena sudah mulai surut. “Ini banjir ketiga selama sebulan di November 2025, dan ini yang terparah karena sudah masuk rumah,” katanya.
Sejak perusahaan IPIP masuk membangun di Dusun Dua Lawania, debu beterbangan, suara bising alat berat beroperasi, dan banjir semakin sering merendam sawah warga. “Sawahku yang sepetak pun tidak luput dari banjir. Debu bertebaran ke mana-mana, bikin saya batuk juga gatal-gatal. Kalau gatal-gatal, saya pakai daun pare dan daun jambu, saya olesi di kulit. Karena tidak punya uang, saya biasa pakai daun-daun itu,” akunya.

Dengan banjir yang menggenangi rumahnya, kerepotan Marni berlipat. Selain mengurus ibunya yang renta dan tak dapat berjalan, ia harus mencari kayu bakar untuk memasak. Kini ia harus menunda ke hutan karena harus membersihkan lumpur di rumah. “Saya tidak bisa lagi beli gas. Sawah saya yang digarap adik sudah terendam lumpur, tidak bisa lagi diharap,” katanya putus asa.
Di balik gemuruh mesin konstruksi dan janji kemajuan dari PT IPIP di Desa Oko-Oko, Dusun Dua Lawania, Kecamatan Pomala, selalu ada cerita yang tersembunyi. Cerita tentang perempuan-perempuan perkasa yang bekerja dua kali lipat, bernapas dalam debu.
Lumpur merah mungkin bisa dibersihkan dari pakaian, lantai, hingga halaman rumah, tetapi bekasnya telah meresap jauh ke dalam kehidupan mereka—mengubah bukan hanya lanskap desa, tetapi juga memutarbalikkan takdir perempuan-perempuan Oko-Oko.
Dari kejauhan, suara mesin tambang IPIP terus bergemuruh, mengingatkan bahwa batas itu akan segera bergeser lagi. Bagi perusahaan, ini tentang tonase nikel dan keuntungan. Tetapi bagi Ibu Fatmawati, Ibu Bara, Ibu Marni, dan perempuan Oko-Oko lainnya, ini tentang ruang terakhir untuk hidup yang semakin hari semakin sempit, terkurung oleh dinding-dinding tanah merah dan janji kemajuan yang tak pernah memihak mereka.
Laporan: Anti

2 weeks ago
19















































