Lomba Media Pembelajaran,Guru Hadirkan Game Edukatif hingga Pengenalan Budaya Lokal

12 hours ago 3

INIPASTI.COM,  SIDRAP – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dari 24 kabupaten dan kota se Sulsel telah mengutus guru terbaiknya mulai dari jenjang SLB, TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/ MA untuk
mengikuti lomba pembelajaran dalam rangka Porsenijar PGRI Sulsel tahun 2026 di Kab. Sidenreng Rappang ( Sidrap ), yang dimulai 2-6 Juli.Lomba ini diikuti puluhan guru PGRI se Sulsel dari 24 kabupaten dan kota se Sulsel.

Dalam lomba ini panitia melibatkan tim juri profesional yang telah memiliki pengalaman dan kompetensi tingkat nasional sehingga tidak perlu lagi diragukan kemampuannya.

Dalam lomba ini setiap peserta diberi kesempatan mempresentasikan media pembelajaran yang dikembangkan dari semua jenjang lomba selama 10 menit, kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab selama 15 menit di hadapan dewan juri.

Penilaian tidak hanya berfokus pada tampilan media, tetapi juga inovasi, kemudahan penggunaan, kebermanfaatan bagi peserta didik, serta dampaknya terhadap proses pembelajaran.

Pada kategori SLB, salah satu dewan juri, Hendriati Sabri, menyoroti pentingnya media pembelajaran yang benar-benar disesuaikan dengan karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus. Berbagai pertanyaan diarahkan pada efektivitas media, tantangan implementasi di kelas, hingga keberlanjutan penggunaannya di rumah.

Salah satu peserta, Difa Aulia, guru SLB asal Kabupaten Soppeng, memperkenalkan game edukatif yang dirancang untuk mengenalkan warna kepada anak dengan autisme. Media tersebut dikemas dalam bentuk permainan interaktif yang memungkinkan peserta didik belajar sambil bermain sehingga lebih mudah mengenali berbagai warna.

Keunggulan media tersebut tidak hanya digunakan saat pembelajaran di sekolah, tetapi juga dilengkapi modul pendamping yang dapat dimanfaatkan orang tua untuk melanjutkan pembelajaran di rumah. Dengan demikian, proses belajar anak dapat berlangsung secara berkesinambungan antara sekolah dan keluarga.

Dalam sesi tanya jawab, dewan juri menggali berbagai aspek, mulai dari tantangan terbesar guru dalam mendampingi anak autisme, strategi mengatasi hambatan belajar, hingga proses pengembangan aplikasi yang digunakan sebagai media pembelajaran.

Peserta lainnya, Indri, juga menampilkan media pembelajaran interaktif yang mendorong keterlibatan aktif peserta didik selama proses belajar berlangsung. Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan interaksi dan partisipasi siswa dalam setiap aktivitas pembelajaran.

Pada jenjang SMA/SMK/MA, penilaian lebih diarahkan pada implementasi pembelajaran mendalam. Salah satu dewan juri, Dr. Abdi, bersama tim menekankan pentingnya kemampuan peserta menjelaskan proses peserta didik memahami materi hingga mampu mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan nyata.

Juri juga menggali bagaimana media pembelajaran mampu mendorong siswa bekerja secara kolaboratif untuk menghasilkan sebuah karya atau bentuk kontribusi nyata sebagai implementasi hasil belajar. Menurut tim juri, media pembelajaran digital tidak cukup hanya menarik secara visual, tetapi harus mampu membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi peserta didik.

Pada kategori SD/MI, peserta menghadirkan berbagai media pembelajaran berbasis aktivitas kelompok yang disesuaikan dengan karakter mata pelajaran, seperti Bahasa Daerah dan Sejarah. Pembelajaran dikembangkan melalui eksplorasi budaya di lingkungan sekitar sehingga peserta didik tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menggali kreativitas berdasarkan kearifan lokal.

Dewan juri turut menyoroti tantangan penerapan media digital di wilayah dataran tinggi yang masih mengalami keterbatasan akses internet. Karena itu, peserta diminta menjelaskan solusi agar media pembelajaran tetap dapat digunakan secara optimal meski tanpa koneksi internet.

Sementara itu, pada kategori SMP/MTs, peserta menampilkan berbagai media pembelajaran digital yang memadukan materi

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|