INIPASTI.COM, Makassar — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Republik Indonesia, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., mengingatkan para lulusan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar agar tidak menjadi sarjana yang biasa-biasa saja. Di tengah persaingan yang semakin ketat dan tingginya angka pengangguran sarjana di Indonesia, para wisudawan dituntut menjadi “sarjana unlimited” yang memiliki kompetensi sekaligus karakter unggul.
Pesan tersebut disampaikan Prof Fauzan saat menyampaikan orasi ilmiah dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Wisuda ke-88 Diploma, Sarjana, Profesi Dokter, Magister, dan Doktor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar yang berlangsung di Gedung Balai Sidang Muktamar Unismuh Makassar, Sabtu (20/6/2026).
“Kita tidak boleh menjadi sarjana yang biasa-biasa saja. Sarjana yang biasa-biasa sudah overload, sudah terlalu banyak. Tidak ada pilihan lain, saudara harus menjadi sarjana yang luar biasa atau sarjana unlimited,” kata Prof Fauzan di hadapan ribuan wisudawan dan orang tua yang hadir.
Dalam pidatonya, Prof Fauzan memaparkan bahwa perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 2025 menghasilkan sekitar 1,26 juta lulusan sarjana. Jumlah tersebut, menurutnya, relatif stabil dari tahun ke tahun dan diperkirakan tidak jauh berbeda pada 2026.
Namun di balik besarnya jumlah lulusan tersebut, terdapat persoalan serius yang harus menjadi perhatian bersama. Berdasarkan data yang dirujuknya, hingga tahun 2026 terdapat sekitar 1,1 juta sarjana yang masih menganggur.
“Saudara saat ini diwisuda, tetapi secara kalkulatif saudara berada di antara 1,26 juta lulusan itu. Pertanyaannya, mengapa ada sarjana yang menganggur? Karena kita tidak boleh menjadi sarjana yang biasa-biasa saja,” ujarnya.
Menurut Prof Fauzan, bangsa Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan mampu menghadapi perubahan. Kelulusan dari perguruan tinggi, katanya, bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal memasuki “kampus kehidupan” yang jauh lebih menantang.
“Saat ini saudara selesai dalam ranah akademis. Tetapi ada kampus yang lebih besar, yaitu kampus kehidupan. Kampus kehidupan menuntut kita terus bertransformasi dan berevolusi menjadi lebih baik,” katanya.
Dalam orasinya, Prof Fauzan menggunakan analogi dua makhluk, yakni ular dan ulat, untuk menjelaskan pentingnya perubahan yang tidak hanya bersifat material, tetapi juga menyentuh karakter.
Ia menjelaskan bahwa ular mengalami pergantian kulit untuk bertahan hidup. Namun perubahan tersebut hanya terjadi secara fisik, sementara karakternya tetap sama.
“Kalau kita hanya mengandalkan kekayaan, gedung yang megah, atau materi semata, itu baru perubahan fisik. Persoalannya, apakah secara batiniah kita juga mengalami evolusi?” katanya.
Berbeda dengan ular, Prof Fauzan mencontohkan ulat yang mengalami metamorfosis melalui fase kepompong hingga menjadi kupu-kupu yang indah dan memiliki nilai lebih tinggi.
Menurutnya, perjalanan mahasiswa di perguruan tinggi sejatinya menyerupai proses metamorfosis tersebut. Mereka datang sebagai individu biasa, kemudian ditempa selama tiga hingga empat tahun hingga akhirnya lulus dan memiliki kapasitas yang lebih baik.
“Ketika masih menjadi ulat, mungkin belum diperhitungkan. Tetapi melalui proses panjang, ia berubah menjadi kupu-kupu yang memberikan nilai dan manfaat. Evolusi itu tidak hanya mengubah fisik, tetapi juga mengubah karakter,” ujarnya.
Prof Fauzan menilai, konsep Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang diterapkan di Unismuh Makassar sesungguhnya sejalan dengan semangat transformasi tersebut, yakni membentuk lulusan yang memiliki ciri khas dan karakter yang berbeda.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kompetensi akademik, tetapi juga oleh cara berpikir atau mindset.
Menurutnya, terdapat orang yang cenderung membesar-besarkan persoalan kecil, sementara ada pula yang mampu menyederhanakan persoalan besar sehingga dapat diselesaikan dengan ba

13 hours ago
6

















































