SULTRAKINI.COM: KENDARI— Seminar Enviropreneur dan Launching Bank Sampah FISIP Universitas Halu Oleo (UHO) yang digelar KSPM dan Galeri Investasi FISIP pada Kamis (20/11/2025) menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan nasional dan daerah. Salah satu narasumber utama yang menjadi perhatian peserta adalah Imam Adicipta Nursantoso, Asisten Manajer Senior Bidang PEPM & LMSK OJK Provinsi Sulawesi Tenggara, yang menyampaikan materi mendalam mengenai literasi keuangan, perilaku finansial generasi muda, serta risiko keuangan digital.
Dalam pidatonya, Imam menekankan bahwa persoalan keuangan tidak berhenti pada kemampuan seseorang menghasilkan uang. Tantangan sebenarnya justru muncul setelah seseorang memiliki uang, yakni bagaimana mengelolanya secara benar, aman, dan berkelanjutan.
“Mahasiswa sering bertanya kepada kami, tidak hanya tentang pasar modal, tetapi semakin banyak yang bertanya mengenai keuangan digital. Ini menunjukkan perubahan tren dan kebutuhan literasi baru yang perlu kita jawab,” ujarnya.
Imam memaparkan hasil survei OJK yang menunjukkan bahwa perilaku keuangan masyarakat—termasuk mahasiswa—kian dipengaruhi faktor eksternal seperti tren digital, pengaruh teman sebaya, hingga dorongan fear of missing out (FOMO).
Menurutnya, banyak mahasiswa yang: ikut berinvestasi hanya karena melihat influencer, membeli aset digital secara impulsif, bahkan menggunakan dana penting seperti SPP, hingga mengambil pinjaman online (pinjol) karena tidak memahami perbedaan kredit konsumtif dan kredit modal kerja.
“Generasi milenial dan Gen Z berpotensi mengalami sandwich generation. Mereka menjadi penopang bagi diri sendiri sekaligus keluarga. Tanpa literasi keuangan yang baik, tekanan ekonomi bisa semakin berat,” jelasnya.
Imam menyoroti banyaknya mahasiswa yang mengambil pinjaman tanpa memahami legalitas, beban bunga, maupun tujuan finansialnya. Tidak sedikit yang akhirnya terjebak pinjaman ilegal.
OJK menegaskan bahwa: kredit konsumtif digunakan untuk kebutuhan pribadi, kredit modal kerja digunakan untuk usaha dan memiliki bunga lebih ringan, pemerintah menyediakan pembiayaan seperti KUR dan pembiayaan Pegadaian bagi pelaku usaha pemula.
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk menerapkan prinsip dasar pengelolaan keuangan: menyisihkan pendapatan di awal, mencatat arus kas secara berkala, serta tidak mudah tergoda penawaran yang tidak jelas.
Salah satu bagian paling disorot dalam pemaparan Imam adalah bahasan mengenai aset kripto, risiko manipulasi pasar, serta maraknya skema pump and dump.
Ia menjelaskan bahwa: ada lebih dari 1.400 koin kripto yang diperdagangkan di Indonesia, namun tidak semua memiliki fundamental, teknologi, maupun legalitas yang jelas, banyak koin dipromosikan melalui konten viral lalu dijual kembali oleh influencer untuk meraup keuntungan sepihak.
“Ini mirip goreng-menggoreng. Orang ikut beli karena FOMO, lalu ketika harga turun, mereka yang masuk terakhir justru rugi,” tegasnya.
Imam juga menambahkan bahwa sifat utama aset kripto adalah volatilitasnya yang sangat tinggi. Harga dapat berubah drastis dalam hitungan menit, dipengaruhi sentimen global dan pergerakan investor besar. Karena tidak memahami risiko ini, banyak pemula yang masuk ketika harga naik dan panik menjual saat harga turun.
Ia mengingatkan pula bahwa volatilitas ekstrem membuat kripto tidak cocok untuk dana kebutuhan harian atau dana pendidikan. Mahasiswa diminta memahami bahwa potensi keuntungan tinggi selalu berbanding lurus dengan potensi kerugian yang sama besarnya.
Dalam materinya, ia menekankan beberapa prinsip keamanan:
1. Gunakan strong password dan two-factor authentication (2FA)
2. Jangan pernah membagikan seed phrase
3. Gunakan wallet resmi
4. Cek whitepaper, teknologi blockchain, dan tokenomics
5. Terapkan prinsip 2L: Legal dan Logis
6. Waspada WiFi publik yang rentan pencurian data
Imam menutup materinya dengan mengingatkan bahwa literasi keuangan adalah fondasi penting bagi generasi muda agar tidak mudah terjebak penipuan digital dan keputusan finansial yang merugikan. Ia mengajak mahasiswa untuk lebih selektif, kritis, dan memprioritaskan keamanan sebelum mengikuti tren investasi digital.
Laporan: Andi Mahfud

1 week ago
16















































