SULTRAKINI.COM: KENDARI – Harga sejumlah komoditas sayur mayur di Pasar Mandonga, Kota Kendari, kembali mengalami fluktuasi dalam dua pekan terakhir pasca Hari Raya Idul Adha 2026. Kondisi ini dipicu oleh terganggunya pasokan akibat cuaca ekstrem dan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Kendari dan Sulawesi Tenggara (Sultra).
Banjir yang terjadi di beberapa daerah sentra produksi dan jalur distribusi menyebabkan hasil panen tidak dapat tersalurkan dengan lancar ke pasar tradisional. Akibatnya, sejumlah komoditas sayur mengalami kenaikan harga secara bertahap dan tidak stabil.
Salah satu pedagang sayur di Pasar Mandonga, Mahrani, mengatakan fluktuasi harga mulai terasa sejak sekitar dua pekan setelah Idul Adha. Menurutnya, kondisi banjir dan cuaca buruk menjadi faktor utama terganggunya pasokan sayur ke pasar.
Ia menjelaskan, sayur kangkung masih relatif stabil meski tetap mengalami penyesuaian di tingkat eceran. “Kangkung satu ikat itu masih di harga Rp5.000,” ujar Mahrani saat ditemui di Pasar Mandonga, Jumat (5/6/2026).
Namun, kondisi berbeda terjadi pada komoditas kacang-kacangan yang mengalami lonjakan harga cukup tajam. Jika sebelumnya masih berada di kisaran Rp5.000, kini harga kacang naik menjadi sekitar Rp10.000.
Selain itu, komoditas tomat juga sempat mengalami ketidakstabilan harga dalam beberapa hari terakhir. Harga tomat tercatat sempat berada di kisaran Rp30.000 per kilogram, kemudian turun menjadi Rp25.000, dan saat ini kembali stabil di sekitar Rp20.000 per kilogram.
Untuk cabai keriting, kenaikan harga bahkan disebut cukup tinggi oleh pedagang. Dari sebelumnya berkisar Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp60.000 per kilogram dan belum menunjukkan tanda penurunan.
Sementara itu, cabai rawit juga mengalami pola fluktuatif. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram.
Mahrani menyebut, banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Sultra turut memperparah kondisi distribusi bahan pangan dari sentra pertanian menuju pasar. Hal itu membuat pasokan sayur berkurang dan harga di tingkat pedagang ikut terdorong naik.
“Kondisi sekarang ini memang serba naik-turun. Selain karena cuaca, banjir juga membuat beberapa jalur distribusi terhambat, jadi barang agak sulit masuk,” kata Mahrani.
Ia menambahkan, fluktuasi harga tersebut berdampak langsung pada daya beli masyarakat, meski sebagian komoditas masih tetap dibeli karena menjadi kebutuhan harian. Namun demikian, ia tetap berupaya menjaga harga agar tidak terlalu membebani konsumen.
Meski tekanan harga terus terjadi, para pedagang berharap kondisi pasokan dapat kembali normal dalam waktu dekat. Stabilitas harga dinilai penting agar aktivitas jual beli di pasar tradisional tetap berjalan lancar.
Hingga awal Juni 2026, harga sayur mayur di Pasar Mandonga masih berada dalam kondisi fluktuatif, dengan kecenderungan naik pada beberapa komoditas utama. Para pedagang berharap pemerintah dapat membantu memperbaiki distribusi bahan pangan, terutama pasca dampak banjir di wilayah Sultra.
Laporan: Andi Mahfud

5 hours ago
2

















































