SULTRAKINI.COM: KENDARI — Dalam kegiatan TOWR FLP UHO yang digelar Forum Lingkar Pena Sulawesi Tenggara di Universitas Halu Oleo, salah satu narasumber, Gugus Suryaman—jurnalis sekaligus Direktur WawaniiNews dan GateNews.co—menyampaikan pandangannya tentang pentingnya menjaga semangat literasi di kalangan generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital.
Menurutnya, kegiatan seperti yang dilakukan FLP UHO merupakan upaya penting untuk merawat minat dan produktivitas menulis, terutama di era media sosial yang rentan membawa informasi tidak akurat.
“Ini salah satu bentuk menjaga minat dan semangat generasi muda untuk tetap menjadi penulis produktif yang positif,” ujarnya.
“Era sosial media ini membawa kita terkontaminasi dan terjebak dalam informasi yang bisa menyesatkan. Karena itu, generasi muda harus peduli literasi dan konten positif.”
Menanggapi kekhawatiran bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) dapat mengancam profesi penulis, Gugus menegaskan bahwa teknologi tidak bisa menggantikan karakter unik dari setiap tulisan manusia.
“Kemajuan teknologi tidak bisa kita hindari, tapi kita juga tidak boleh terlena. AI bisa melengkapi kebutuhan kita, tapi ada satu hal yang tidak dimiliki AI: nyawa dari tulisan itu,” jelasnya.
“Kalau kita sering menulis dengan gaya kita sendiri, dari buah pikiran kita, kita akan menemukan nyawa tulisan itu. Itu tidak bisa digantikan teknologi.”
Ia menekankan bahwa AI bukan hambatan bagi penulis, melainkan alat yang kebutuhannya akan berbeda bagi setiap individu. Namun kreativitas dan ekspresi pribadi tetap menjadi inti dari aktivitas menulis.
Pada kegiatan yang merupakan agenda perdana FLP-UHO itu, Gugus menilai kehadiran mahasiswa menunjukkan antusiasme positif meski dilakukan pada hari Minggu.
“Ini cukup bagus. Mahasiswa mau mengikuti kegiatan seperti ini tanpa benefit besar. Minat seperti ini akan membantu mereka memahami hal-hal yang tidak mereka dapatkan di forum formal,” ucapnya.
Ia berharap FLP UHO terus berkembang dan aktif merekrut anggota baru sehingga semakin banyak penulis muda lahir dari kampus dan mampu menyebarkan literasi positif di masyarakat.
Kepada mahasiswa yang ingin memulai perjalanan menulis, Gugus memberikan beberapa poin penting:
1. Hidupkan keinginan menulis
“Cara menghidupkan keinginan itu, berkumpullah dengan mereka yang punya minat sama.”
2. Perbanyak membaca
“Dari membaca, kita bisa mengasah kemampuan menulis. Apa yang kita tulis bersumber dari apa yang ada di kepala kita.”
3. Perbanyak diskusi
“Diskusi mengasah kemampuan berbicara dan mengeluarkan isi pikiran. Apa yang mau dikeluarkan kalau tidak ada isinya?”
4. Biasakan menulis apa pun
Ia mendorong mahasiswa mencatat ide sekecil apa pun termasuk jadwal harian.
“Menulis itu cara mengikat ide. Sependek apa pun, tuliskan. Kebiasaan itu akan membuat kita banyak menulis.”
5. Manfaatkan media sosial sebagai ruang menulis
“Di sosmed, jangan hanya upload foto atau video. Sertakan tulisan atau caption. Kalau video, buat narasi, buat skenario. Tulisan kita bisa menginspirasi ribuan followers.”
Menutup sesi wawancara, Gugus menyampaikan harapannya agar generasi muda tidak hanya menjadi penikmat informasi, tetapi pencipta konten yang memberikan dampak positif.
“Kita harapkan generasi muda tidak hanya jadi konsumen, tapi pelaku utama. Jangan hanya mengonsumsi konten orang lain. Jadilah pembuatnya—penulis, pembuat video, grafis, apa pun bentuknya. Artinya, kita yang mempengaruhi,” tegasnya.
Dengan pesan tersebut, Gugus menekankan bahwa literasi bukan hanya soal menulis, tetapi juga tentang mengambil peran dalam arus informasi dan memberi nilai bagi masyarakat.
Laporan: Andi Mahfud

1 week ago
18















































