SULTRAKINI.COM: Tari tradisional Sajo Moane dari Pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara, akan menjadi salah satu suguhan budaya yang memeriahkan upacara penurunan bendera peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Minggu (17/8/2025).
Tarian khas yang menggambarkan semangat persatuan dan perjuangan masyarakat pesisir ini akan dibawakan secara kolosal, melibatkan lebih dari seratus penari dari Wakatobi dan Kendari.
Tari Sajo Moane menjadi tarian ketiga dari Sulawesi Tenggara yang mendapat kehormatan tampil di Istana Negara, setelah Tari Lumense dari Bombana pada 2022 dan Tari Lulo Alu pada 2024.
Tarian ini menggambarkan permainan anak laki-laki dengan gerakan khas peperangan menggunakan parang kayu sebagai senjata, diiringi teriakan lantang yang mencerminkan keberanian dan jiwa heroik. Biasanya, tarian ini dimainkan oleh sekitar 20 anak laki-laki usia sekolah dasar, namun pada pementasan kali ini, formatnya dimodifikasi menjadi versi kolosal.
Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran Dinas Pariwisata Wakatobi, Arif Rahmansyah, menjelaskan bahwa undangan resmi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) diterima pada akhir Juli 2025, menunjuk Wakatobi sebagai wakil Sulawesi Tenggara untuk menampilkan Sajo Moane.
“Permintaan awalnya 200 penari, tetapi kami hanya mampu memberangkatkan 70 orang. Usulan ini disetujui Kemenpar,” kata Arif.
Proses seleksi di Pulau Tomia dilakukan dari 100 anak menjadi 70 yang terpilih, disertai gladi dua hari di kampung halaman. Selanjutnya, para penari berangkat ke Kendari pada 10 Agustus untuk menjalani latihan intensif di Gedung KONI.
Sebanyak 70 penari dari Wakatobi akan berkolaborasi dengan 45 penari dari Sanggar Natural Kendari binaan Sukri, yang ditunjuk langsung oleh Kemenparekraf untuk memoles koreografi versi kolosal Sajo Moane.
Rombongan dijadwalkan berangkat ke Jakarta pada 13 Agustus sore, kemudian melaksanakan gladi di lokasi acara pada 14 Agustus pagi sebelum tampil di puncak peringatan.
Isu Perubahan Gerakan
Menanggapi isu perubahan gerakan, Arif menegaskan bahwa penampilan kali ini adalah bentuk kolaborasi, bukan Sajo Moane murni.
“Sebelum menentukan koreografi, Sukri sudah berkonsultasi dengan pelatih asli Sajo Moane di Tomia tentang batasan yang bisa diubah. Selama gerakan asli, pakaian, kearifan lokal, dan nilai-nilai Sajo Moane tidak berubah, maka penyesuaian formasi diperbolehkan. Filosofi perjuangan tetap dipertahankan,” ujarnya.
Arif menambahkan bahwa format kolosal ini hanya untuk momen HUT RI di Istana, sementara pementasan di luar acara ini akan tetap mempertahankan keaslian Sajo Moane.
Pelaku Senior dan Sejarah Tarian
Salah satu tokoh penting dalam penampilan ini adalah La Ode Abdul Hasan (53), penabuh gendang dari Desa Tiroau, yang mempelajari Sajo Moane sejak kelas 5 SD dari La Ode Muslihi — pewaris terakhir tarian ini dari sang ayah, La Ode Mbau.
“Dulu kami latihan setiap sore, jumlah penarinya hanya 20 orang, kostumnya tetap merah, hitam, dan kuning seperti sekarang,” kenangnya. Abdul Hasan pernah tampil di Festival Tari Tradisional Indonesia 1985 di Yogyakarta mewakili Sulawesi Tenggara, dan kini kembali mencatat sejarah di Istana Negara.
Menurutnya, Sajo Moane adalah simbol persatuan dan perjuangan, dengan syair yang sebagian dipengaruhi bahasa Makassar. Pada November 2024, tarian ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional.
Pelatih pendamping La Ode Bungane menuturkan, Sajo Moane kerap diundang di acara bergengsi, antara lain ulang tahun ke-23 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 1998 yang dihadiri Presiden Soeharto, Festival Keraton Nusantara II di Cirebon tahun 1997, dan penyambutan Presiden Joko Widodo di Wakatobi.
Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka menilai, penampilan ini menjadi ajang promosi budaya Bumi Anoa di tingkat nasional. “Tidak hanya sekadar tampil, tapi memperkenalkan budaya Sulawesi Tenggara kepada Indonesia,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa Wakatobi merepresentasikan karakteristik kepulauan Sultra.
Kepala Dinas Pariwisata Sultra, Belli Harli Tombili, menambahkan bahwa sebagian besar penari adalah anak-anak Tomia yang berkolaborasi dengan penari Kendari, menggambarkan semangat persatuan wilayah timur Indonesia.
Koreografer Sukrin Suhardi menjelaskan, total 160 penari terlibat, terdiri dari 100 anak laki-laki Sajo Moane dan 60 remaja putri bagian Posa’asa. Properti berupa parang melambangkan perjuangan, sedangkan Posa’asa menjadi simbol persatuan, selaras dengan tema HUT ke-80 RI: Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.
Laporan: Frirac