SULTRAKINI.COM: KENDARI – Direktur Jenderal Pemeriksaan Keuangan Negara VI BPK RI, Dr. Laode Nusriadi, menekankan pentingnya penguatan Tata Kelola Perguruan Tinggi (Good University Governance) sebagai kunci bagi Universitas Halu Oleo (UHO) untuk menjaga relevansi, efisiensi, dan meningkatkan reputasi institusi.
Pernyataan ini disampaikan oleh Dr. Nusriadi dalam sambutannya pada acara Wisuda Universitas Halu Oleo di Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (11/11/2025).
“Saat ini seluruh perguruan tinggi di dunia tengah berhadapan dengan pertanyaan mendasar: apakah secara didaktik mereka masih relevan atau telah Out Date,” ujar Dr. Nusriadi.
Pertanyaan ini, menurutnya, menuntut UHO untuk secara otentik memantaskan diri berada pada barisan perguruan tinggi dengan kontribusi kuat yang tetap dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.
Berbagi pengalaman dari praktik pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, Dr. Nusriadi memaparkan bahwa tata kelola yang baik sesungguhnya bermula dari tiga kebiasaan sederhana:
- Jujur pada data
- Disiplin pada proses
- Bertanggung jawab pada hasil
Tata kelola yang baik ini, lanjutnya, akan mengantarkan UHO untuk semakin efisien dan efektif mengelola sumber daya, meningkatkan kepercayaan publik (trust) dan reputasi, menarik talenta berkualitas, serta membuka ruang kerja sama pendanaan yang lebih luas. Penguatan tata kelola ini harus diimplementasikan secara berkelanjutan, tidak hanya oleh institusi tertinggi, tetapi hingga unit kerja terkecil seperti program studi dan laboratorium.
Beberapa aspek kunci yang perlu diperkuat UHO mencakup: keterbukaan dalam kebijakan dan pengelolaan keuangan/aset; akuntabilitas kinerja dan pengelolaan sumber daya; serta responsibilitas tinggi yang terhimpun kuat dalam penjabaran dan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Selain aspek tata kelola, Dr. Nusriadi juga meminta UHO untuk cermat membaca lingkungan strategis, memeriksa peta jalan, dan memastikan kembali detail rencana kerja. Ia menyoroti status pengelolaan keuangan UHO saat ini sebagai Badan Layanan Umum (BLU) dan potensi menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH).
“Meskipun status PTNBH memberikan otonomi yang lebih tinggi, penting bagi Universitas Halu Oleo untuk secara cermat melakukan pengkajian dan tidak perlu tergesa-gesa untuk berada dalam lintasan perlombaan menjadi PTNBH,” tegasnya.
Sebaliknya, UHO perlu mengkonsolidasikan sumber daya agar selain dapat memberikan pelayanan maksimal, juga dapat memastikan kesejahteraan civitas akademika melalui: remunerasi yang lebih kompetitif, atmosfer kerja yang kondusif (termasuk budaya kerja yang sehat dan work-life balance), serta peluang mengembangkan diri secara terbuka dan terus menerus.
Kepada para wisudawan, Dr. Nusriadi mengakui adanya optimisme namun juga kekhawatiran alamiah Generasi Z terkait arena kerja. Ia menyebut bahwa tiga sektor utama penggerak mesin ekonomi dunia saat ini adalah: pangan, energi, dan kesehatan. Nilai tambah akan bersirkulasi sepanjang rantai nilai dari modal, tenaga kerja, dan teknologi.
Menutup sambutannya, ia memberikan pesan kunci di tengah otomatisasi dan kehadiran Kecerdasan Artifisial:
“Meskipun dunia kerja makin terotomatisasi berkat bantuan Kecerdasan Artifisial yang menghasilkan Machine Learning, namun keduanya hingga saat ini belum dapat menggantikan kelebihan manusia, yakni: EMPATI, AHLAK dan ADAB.”
Dr. Nusriadi mengutip pesan masyhur Jalaludin Rumi: “Dimanapun itu, jalan untuk mencapai kesucian hati adalah kerendahan hati.” Ia berharap agar ilmu pengetahuan dapat mengantarkan wisudawan pada puncak cita-cita, namun Akhlak dan Adab-lah yang akan menentukan kelanggengan dan akhir yang baik atas capaian tersebut, yang jika diagregasi akan melahirkan Peradaban.
Laporan: Frirac

2 weeks ago
21















































