BGTK Sultra Latih 662 Sekolah, Siap Terapkan Pembelajaran Coding dan AI

1 week ago 22

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan pemerintah akan memasukkan pembelajaran coding dan artificial intelligence (AI) pada seluruh jenjang pendidikan. Kebijakan tersebut direncanakan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2025–2026, dengan pengenalan di jenjang sekolah dasar (SD) dimulai dari kelas 5 sebagai mata pelajaran pilihan untuk SD, SMP, dan SMA.

Menindaklanjuti kebijakan tersebut, Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Sulawesi Tenggara mulai mempersiapkan guru dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan kontekstual. Ketua BGTK Sultra, Surip Widodo, S.Si., M.M., mengatakan penerapan pembelajaran coding dan AI tidak mengubah kurikulum yang digunakan sekolah.

“Sekolah tetap bisa menggunakan Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka. Yang ditekankan bukan pada kurikulumnya, tetapi pada pendekatan pembelajaran, yaitu pembelajaran mendalam,” ujar Surip Widodo saat diwawancarai di Kantor BGTK Sultra.

Ia menjelaskan, mata pelajaran coding dan kecerdasan artifisial bersifat opsional atau pilihan, bukan mata pelajaran wajib. Penerapannya disesuaikan dengan jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA, dengan pengenalan awal di SD kelas 5 sebagai bagian dari pergeseran (shift) pembelajaran.

Menurut Surip, fokus penguatan pada tahun ini tidak lagi pada pelatihan berbasis substansi semata, melainkan pada bagaimana guru mengajar di kelas. Dampak penerapan pembelajaran ini akan dilihat secara langsung, salah satunya melalui evaluasi yang dijadwalkan berlangsung akan gelar di Hotel Claro Kendari pada 26 Januari 2026.

“Antusiasme guru cukup baik dan mereka sudah mulai siap. Karena itu, pada 2026 akan kita permantap lagi, terutama bagi sekolah yang sudah mempraktikkan. Ke depan akan ada program sekolah model untuk melihat dampaknya secara lebih nyata,” jelasnya.

Surip mengungkapkan, hingga saat ini pelatihan kurikulum coding dan kecerdasan artifisial (KKA) di Sulawesi Tenggara telah menjangkau 662 sekolah, dengan melibatkan 662 guru dan tenaga kependidikan. Program tersebut telah dilaksanakan sejak tahun lalu sebagai fondasi awal penerapan pembelajaran di kelas.

Selain itu, BGTK Sultra juga mencatat pelatihan pembelajaran mendalam telah menjangkau 808 sekolah dengan melibatkan 2.760 guru dan tenaga kependidikan di Sulawesi Tenggara.

Terkait tantangan, Surip menyebut sumber daya manusia (SDM) masih menjadi faktor utama karena kemampuan guru yang sangat variatif, khususnya di jenjang SD. Meski demikian, dari sisi sarana dan prasarana, pemerintah pusat telah memberikan dukungan berupa smartboard, laptop untuk sekolah, serta akses internet Starlink bagi daerah terpencil di sekitar 1.500 titik di Indonesia.

“Kalau sarana prasarana relatif cukup. Tantangannya memang ada di SDM, dan itu wajar karena ini kurikulum baru dan dilakukan bertahap,” ujarnya.

Ke depan, BGTK Sultra akan menerapkan pendekatan teaching experimental training, yakni guru langsung mengajar di kelas, menemukan permasalahan, lalu mendiskusikannya bersama guru lain dalam forum komunitas belajar. BGTK akan hadir untuk memberikan penguatan berdasarkan persoalan nyata di lapangan.

Dalam penerapannya, materi coding dan AI di jenjang SD lebih difokuskan pada logika dasar, etika, dan pemahaman risiko, bukan pada aspek teknis yang kompleks. Guru diharapkan mampu melatih nalar kritis siswa serta memvalidasi informasi yang dihasilkan oleh teknologi.

“Kunci di level SD hingga SMA itu disiplin etika digital. AI tidak selalu benar 100 persen. Tugas guru adalah membimbing dan meluruskan pemahaman siswa,” tegas Surip.

Ia menambahkan, kurikulum ini diharapkan dapat meningkatkan literasi digital, literasi simulasi, serta kesadaran etika dalam penggunaan teknologi, sehingga peserta didik tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab dalam ruang digital.

Laporan: Andi Mahfud

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|