Banjir Oko-Oko dan Lamedai: Buah Industri Ekstraktif yang Abai terhadap Lingkungan

1 week ago 21

Sawah yang Tersedak Lumpur, Harapan yang Terkikis Banjir

SULTRAKINI.COM: Siang yang mendung menggelayuti bukit-bukit Lamedai ketika Bapak Semmang (60 tahun) berkendara motor matic merah dari arah rumahnya di pinggir jembatan desanya, Desa Lamedai, lalu memarkirkan motornya di pinggir jalan raya berbatasan dengan sawahnya. Kaki pria paruh baya itu mendekat ke bibir sawah. “Dulu di sini hijau,” ujarnya, suaranya parau sambil menunjuk hamparan sawah berlumpur yang membentang seluas dua hektare. “Sekarang yang ada hanya kubangan besar tempat kenangan kami terkubur,” katanya.

“Sawah saya di depan itu terendam lumpur dan kerikil akibat banjir di hulu, akibat pembangunan smelter IPIP di hulu itu. Sawah di belakang rumah seluas tiga hektare juga ikut terendam beserta rumah dan perabot. Barang-barang rusak, air merendam permukiman ini setinggi satu meter. Padi itu sudah rusak dan harus diganti, tapi bagaimana menggantinya? Pupuk dan benih padi yang disimpan juga basah, rusak terendam banjir,” katanya putus asa.

Sepekan setelah banjir bandang menerjang (10 November 2025) lalu, kehidupan petani di Lamedai dan Oko-Oko seperti terhenti. Sawah-sawah yang semula menghijau dan sudah dipupuk kini berubah terendam lumpur dan kerikil. Bau anyir tanah basah masih memenuhi udara.

Kenangan Setelah Melakukan Pemupukan, Ludes dalam Tiga Jam Hujan

Risal (50 tahun) duduk terduduk di tepi sawahnya yang hancur. Matanya menatap nanar. “Saya baru selesai memupuk, juga memupuk padi saudara saya, padi saudara satu hamparan dengan padi saya. Tapi saat hujan turun tanggal 10 November lalu, pupuk hanyut tak tersisa, bahkan kerikil masuk ke tanaman padi. Ini banjir ketiga dan sudah tiga kali padi saya dan satu hamparannya terendam banjir,” katanya.

“Perawatannya susah payah, setiap hari ke sawah, kendalikan hama, jaga air, tapi semuanya hilang dalam tiga jam air bah datang. Kini malah hamparan lumpur dan kerikil yang memenuhi sela batang sawah,” katanya.

Ia menunjukkan sisa-sisa tanaman padi yang tersembul di antara lumpur, batang-batangnya patah dan berwarna kecokelatan. “Kami seharusnya menunggu masa panen beberapa bulan lagi, tapi masa menunggu itu hilang. Kami akan memulai baru jika lahan ini sudah bersih dari kerikil dan lumpur,” katanya lagi.

Lumpur di Bawah Kaki, Kegelisahan di Hati

Di seberang Desa Lamedai, di Desa Oko-Oko, tepatnya di Dusun II Lawania, pemandangan serupa terlihat. Pak Sukiman (50 tahun) menunjukkan air lumpur yang masih merendam setinggi padinya. “Ini padi yang sudah dipupuk, datang banjir, pupuknya jadi hilang tersapu air,” katanya.

“Ini sawah saya satu-satunya, harapan saya satu-satunya. Tapi terendam lumpur begini, saya jadi pesimistis. Tadinya punya tambak dua hektare, tapi sudah diambil IPIP untuk pembangunan Jetty. IPIP sudah bayar uang rumah saya, tapi tanah (tambak) dua hektare itu belum dibayar,” katanya lagi.

Bagi warga Lamedai dan Oko-Oko, lumpur dan kerikil ini bukan hanya material yang harus dibersihkan. Ini adalah simbol kehancuran mata pencaharian. “Kami tidak tahu harus mulai dari mana,” ujar Sukiman. “Bibit baru butuh uang, memperbaiki sawah butuh tenaga, dan yang paling sulit adalah memulihkan semangat.”

Di kejauhan, gemuruh mesin kendaraan raksasa lalu-lalang memuat material. Tiang pancang dan crane membantu mendirikan bangunan-bangunan IPIP berdiri tegak menantang, seakan tak peduli dengan nestapa yang melanda warga Lamedai dan Oko-Oko. Lumpur mungkin akan mengering, tapi luka di hati warga akan tetap membekas lebih dalam dari genangan lumpur mana pun.

Kritik Terhadap Sistem yang Lemah

Koordinator Riset dan Data Puspaham, Didi, mengatakan banjir lumpur yang terjadi di area persawahan dan permukiman di Desa Oko-Oko Kecamatan Pomalaa dan Desa Lamedai Kecamatan Tanggetada disebabkan oleh aktivitas industri ekstraktif yang melakukan pembukaan lahan skala besar, yaitu PT Madinra Inti Sawit (Perkebunan), PT Suria Lintas Gemilang (Pertambangan), PT Vale Indonesia Tbk, dan pembukaan lahan untuk kawasan industri PT IPIP. Berdasarkan pengamatan citra satelit dan peninjauan di lapangan secara langsung, lumpur dan kerikil hanyut terbawa air mengikuti aliran sungai besar yang berada di gunung bagian Desa Sopura, Oko-Oko, Lamoiko, dan Pewisoa Jaya yang muaranya berada di Dusun II Lawania Desa Oko-Oko.

“Penyempitan badan sungai serta tebalnya sedimen pada muara di Dusun II Lawania yang tepatnya di samping Jetty PT IPIP mengakibatkan meluapnya air bercampur lumpur di area sawah dan beberapa rumah warga ikut tergenang banjir di Desa Oko-Oko dan Lamedai,” terangnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, perusahaan harus segera melakukan pemulihan lingkungan secepatnya karena jika terjadi banjir susulan saat musim panen tiba maka petani akan terancam gagal panen. Itu jelas merugikan petani. “Hadirnya perusahaan di sana seharusnya memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, bukan menyengsarakan bahkan menghilangkan mata pencaharian masyarakat di sektor pertanian,” tegasnya.

Peringatan untuk Masa Depan

Wakil Ketua II DPRD Kolaka, Syaifullah Halik, mengatakan ini kejadian yang sudah beberapa kali terjadi dan sangat merugikan masyarakat. “Ini bisa dipastikan masyarakat kita akan gagal panen. Kami duga ini akibat kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan. Oleh karena itu pemerintah harus melakukan upaya dalam rangka mengantisipasi kejadian serupa yang lebih besar di kemudian hari. Para pelaku usaha pertambangan harus punya tanggung jawab terhadap dampak yang mengakibatkan kerusakan lahan pertanian masyarakat kita,” katanya.

Laporan: Anti

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|