Lompatan Logika Adi Hidayat

11 hours ago 5

Ketika Kisah Hikmah Berubah Menjadi Vonis

Oleh : Muhammad Zaiyani

Ada saatnya sebuah kisah agama perlu direnungkan dengan hati. Tetapi ada pula saatnya kisah yang sama perlu diperiksa dengan akal, sebab agama tidak pernah memerintahkan kita mematikan akal demi menghidupkan rasa.

Ustadz Adi Hidayat pernah menyampaikan kisah tentang seorang perempuan yang berprofesi sebagai pramugari, kemudian memutuskan berhenti bekerja karena ingin berhijrah dan berhijab. Ia sempat mengikuti pengajian, kemudian jatuh sakit karena kanker dan meninggal dunia. Dalam kisah tersebut, UAH menggambarkan sakit yang dialami perempuan itu sebagai bagian dari kasih sayang dan penjagaan Allah: seolah-olah Allah telah memisahkannya dari lingkungan sebelumnya, menjaganya dari ucapan dan pandangan yang mengandung maksiat, kemudian mengambilnya dalam keadaan bertaubat. UAH juga menceritakan bahwa ketika takziah, yang banyak hadir adalah teman-teman pengajiannya, sementara teman-teman seprofesinya relatif tidak hadir dan hanya mengirim karangan bunga.

Kisah itu memang mengharukan. Tetapi karena disampaikan oleh seorang pendakwah yang memiliki pengaruh besar, maka kisah semacam ini tidak cukup hanya menyentuh perasaan tetapi juga harus lolos dari uji logika.

Dari ceramah ini saya melihat adanya apa yang dapat disebut sebagai lompatan logika. Bukan pada ajakan untuk bertaubat. Bukan pada anjuran berhijrah. Bukan pula pada doa agar almarhumah memperoleh husnul khatimah. Melainkan yang perlu dikritisi adalah ketika sebuah peristiwa individual dipakai untuk membangun kesimpulan yang jauh lebih besar daripada bukti yang tersedia.

Pertama: Argumentum ad Anecdotam — kisah pribadi bukan dalil universal

Dalam logika dikenal argument from anecdote: menjadikan sebuah kisah atau pengalaman individual sebagai dasar untuk menarik kesimpulan umum.

Seorang pramugari berhenti bekerja. Ia berhijrah. Ia sakit. Ia meninggal. Kemudian muncul gambaran bahwa pekerjaan yang ditinggalkannya merupakan lingkungan maksiat yang kemudian Allah jauhkan darinya.

Pertanyaannya: Apakah satu kasus dapat membuktikan karakter seluruh profesi? Tentutidak.

Kalau seorang dokter berhenti bekerja kemudian meninggal, apakah rumah sakit adalah tempat maksiat? Kalau seorang pejabat meninggalkan jabatannya kemudian mendapat musibah, apakah jabatan itu berarti sumber kemaksiatan?

Kalau seorang pedagang meninggalkan usahanya kemudian wafat, apakah perdagangan tersebut berarti tidak diridai Allah? Tentu tidak.

Satu kisah dapat menjadi ibrah, tetapi tidak otomatis menjadi kaidah. Di sinilah perbedaan antara hikmah dan hujjah harus dijaga.

Kedua: Post Hoc Fallacy — setelah itu bukan berarti karena itu

Ada kesalahan logika yang dikenal sebagai post hoc ergo propter hoc: karena B terjadi setelah A, maka dianggap B terjadi karena A.

Pramugari berhenti bekerja. Setelah itu ia sakit. Kemudian ia meninggal.

Lalu peristiwa kematian tersebut dibaca sebagai konsekuensi spiritual dari keputusan meninggalkan pekerjaan dan sebagai tanda penjagaan Allah.

Padahal urutan waktu tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat.

Ia meninggal setelah berhijrah. Tetapi apakah itu membuktikan bahwa Allah sedang memberikan perlakuan khusus kepadanya karena profesinya telah ditinggalkan? Itu adalah wilayah yang jauh lebih dalam. Dan di wilayah tersebut manusia seharusnya berhati-hati.

Kita boleh mengatakan: “Semoga Allah menerima taubatnya.” Tetapi berbeda dengan mengatakan: “Allah melakukan ini karena alasan tersebut.”

Yang pertama adalah doa. Yang kedua adalah klaim mengenai maksud Tuhan.

Ketiga: Hasty Generalization — menggeneralisasi terlalu cepat

Kesalahan berikutnya adalah hasty generalization, yaitu menarik kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil.

Satu orang pramugari berhijrah lalu meninggal tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa profesi pramugari pada dirinya adalah profesi maksiat.

Profesi tidak mempunyai dosa secara metafisik. Yang berdosa adalah perbuatan manusia.

Seorang pramugari dapat melakukan sesuatu yang haram. Tetapi seorang pramugari juga dapat melakukan sesuatu yang halal.

Begitu pula seorang ustadz. Seorang ustadz dapat melakukan kebaikan, tetapi bukan berarti setiap perbuatannya otomatis benar hanya karena ia seorang ustadz.

Islam menilai perbuatan berdasarkan syariat, bukan berdasarkan label profesi.

Maka persoalan sebenarnya bukan: “Apakah pramugari itu profesi maksiat?”

Melainkan: “Dalam kondisi tertentu, apakah seorang pramugari melakukan aktivitas yang bertentangan dengan syariat?”

Itu pertanyaan ilmiah. Itu pertanyaan fikih. Dan jawabannya harus diperinci.

Keempat: Guilt by Association — menghakimi seseorang karena kelompoknya

Lebih problematis lagi ketika kehadiran orang-orang di rumah duka dijadikan semacam pembanding moral.

Teman pengajian hadir. Teman seprofesi tidak banyak hadir.

Lalu muncul kesan: lihatlah, ketika ia meninggalkan lingkungan lamanya dan masuk ke lingkungan pengajian, ia memperoleh lingkungan orang-orang saleh.

Tetapi apakah sedikitnya orang yang hadir dari maskapai membuktikan mereka tidak saleh? Tidak.

Inilah guilt by association—menilai seseorang berdasarkan kelompok yang diasosiasikan dengannya.

Orang tidak hadir dalam takziah bukan otomatis karena ia buruk. Bisa karena jarak. Bisa karena sedang bekerja. Bisa karena tidak memperoleh informasi. Bisa karena hubungan personalnya memang tidak dekat. Bisa karena berbagai sebab yang sama sekali tidak berkaitan dengan kualitas iman.

Sebaliknya, banyaknya orang yang hadir juga bukan sertifikat kesalehan. Rumah duka bukan laboratorium untuk mengukur kadar ketakwaan manusia.

Kelima: Appeal to Divine Authority — jangan berbicara terlalu jauh atas nama Allah

Ini bagian yang paling serius. Seorang ulama boleh mengajarkan bahwa ujian dapat menjadi jalan menuju pahala. Al-Qur’an dan Sunnah memang memberikan dasar mengenai kesabaran menghadapi ujian. Tetapi berbeda antara mengatakan: “Musibah dapat menjadi sarana kebaikan bagi seorang mukmin.” dengan: “Musibah ini pasti diberikan Allah karena alasan tertentu kepada orang ini.”

Yang kedua membutuhkan pengetahuan yang tidak kita miliki. Kita tidak mengetahui isi hati almarhumah. Kita tidak mengetahui seluruh amalnya. Kita tidak mengetahui hakikat hubungannya dengan Allah. Dan yang paling penting: kita tidak mengetahui secara pasti mengapa Allah menetapkan ajalnya pada saat tersebut.

Karena itu, semakin tinggi kedudukan seorang pendakwah, semakin tinggi pula kehati-hatian yang diperlukan ketika menggunakan nama Allah. Jangan sampai husnuzhan kepada Allah berubah menjadi klaim seolah-olah kita mengetahui rahasia takdir-Nya.

Yang paling ironis: kisah yang seharusnya merendahkan ego justru dapat melahirkan superioritas moral

Menurut saya, pesan terbesar dari kisah tersebut justru bukan tentang buruknya profesi pramugari, melainkan pesan tentang taubat.

Bahwa seseorang yang hari ini masih jauh dari Allah dapat berubah. Bahwa seseorang tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Bahwa kematian dapat datang kapan saja. Bahwa jangan menunda perbaikan diri. Bukankah itu sudah cukup indah?

Mengapa harus diperluas menjadi semacam oposisi moral:

orang pengajian versus orang maskapai, orang berhijrah versus orang yang belum berhijrah, profesi lama versus kehidupan baru?

Di situlah dakwah berisiko bergeser dari mengajak manusia kembali kepada Allah menjadi membentuk kasta-kasta kesalehan.

Padahal seorang yang hari ini tampak jauh dari agama boleh jadi besok jauh lebih dekat kepada Allah daripada orang yang hari ini merasa dirinya paling saleh.

Ulama sejati bukan hanya pandai menunjukkan jalan ke surga, tetapi juga tahu batas pengetahuannya tentang Tuhan

Saya tidak sedang mempersoalkan niat Ustadz Adi Hidayat. Saya juga tidak sedang menghakimi benar-salahnya taubat perempuan tersebut. Bahkan sebaliknya: saya berharap almarhumah benar-benar memperoleh rahmat Allah dan diterima seluruh amal baiknya.

Kritik ini justru lahir karena dakwah adalah amanah ilmu. Seorang pendakwah tidak hanya bertugas membuat jamaah menangis. Ia juga bertugas membuat jamaah berpikir. Ia bukan hanya harus mampu menggetarkan hati, tetapi juga harus mampu menjaga disiplin penalaran.

Sebab ketika seorang ulama berbicara, jamaah tidak hanya menerima kesimpulan. Jamaah juga belajar cara menyimpulkan.

Jika sebuah kebetulan dianggap sebagai sebab, jamaah belajar post hoc fallacy.

Jika satu kasus dianggap mewakili seluruh profesi, jamaah belajar hasty generalization.

Jika orang yang tidak hadir dalam takziah dianggap kurang saleh, jamaah belajar guilt by association.

Dan jika kesimpulan tentang suatu peristiwa dinyatakan sebagai maksud Allah tanpa dalil yang pasti, jamaah belajar bahwa manusia boleh berbicara terlalu jauh mengenai sesuatu yang sesungguhnya merupakan rahasia Ilahi.

Maka kritik saya sederhana.

Silakan ajarkan hijrah. Silakan ajarkan taubat. Silakan ajarkan hijab. Silakan ajarkan meninggalkan pekerjaan yang benar-benar mengandung keharaman.

Tetapi jangan menjadikan kematian seseorang sebagai bukti untuk menghakimi seluruh profesinya. Jangan menjadikan karangan bunga sebagai ukuran ketakwaan. Jangan menjadikan jumlah pelayat sebagai sertifikat kesalehan. Dan jangan mengubah sebuah kisah menjadi kepastian tentang kehendak Allah tanpa ilmu yang memadai.

Sebab seorang alim yang besar bukanlah orang yang selalu mempunyai jawaban.

Kadang-kadang justru kebesaran ilmu tampak ketika ia berani mengatakan: “Saya tidak tahu.”

Dan dalam perkara takdir, kematian, serta rahasia hati manusia, kalimat yang paling tinggi derajat kehati-hatiannya mungkin justru: Wallāhu a’lam. Allah lebih mengetahui. Sebab kita boleh membaca hikmah dari sebuah kematian. Tetapi jangan mengaku mengetahui rahasia Allah di balik kematian itu.

Wallāhu a’lam.

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|