Dosen UHO Edukasi 100 Wartawan tentang AI dan Masa Depan Media Digital

20 hours ago 8

SULTRAKINI.COM: KENDARI — Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) kini menjadi bagian penting dalam berbagai sektor industri, termasuk dunia media dan jurnalistik. Pemanfaatan teknologi digital tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi telah menjadi kebutuhan utama agar industri media mampu bersaing di tengah arus informasi global yang terus berkembang pesat.

Hal tersebut disampaikan dosen Universitas Halu Oleo yang mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Mohammad Ricky Ramadhan Rasyid, dalam kegiatan Insight Talks bertema “Literasi Media: Cerdas di Era Kecerdasan Artifisial” yang berlangsung di Swiss-Belhotel Kendari, Rabu (13/5/2026). Dalam kegiatan tersebut, ia memberikan materi kepada lebih dari 100 wartawan dari berbagai media di Sulawesi Tenggara.

Dalam pemaparannya, Ricky menjelaskan bahwa AI menghadirkan peluang besar dalam mendukung kerja jurnalistik, khususnya dari sisi efisiensi dan pengolahan informasi. Ia mencontohkan proses transkrip wawancara yang sebelumnya harus dikerjakan secara manual dan memakan waktu berjam-jam hingga berhari-hari, kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit melalui berbagai aplikasi berbasis AI.

“Kalau dulu transkrip harus didengarkan satu per satu dan bisa memakan waktu sangat lama, sekarang sudah banyak software AI yang membantu pekerjaan itu hanya dalam hitungan menit,” ujarnya.

Menurutnya, AI juga membantu jurnalis dalam melakukan analisis data, membaca distribusi audiens, hingga menentukan jenis konten yang paling relevan bagi pembaca. Sebab, jurnalisme modern tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu memberikan nilai tambah melalui data dan pendekatan yang lebih mendalam.

Ia menilai teknologi AI memungkinkan media memahami perilaku audiens secara lebih spesifik, sehingga konten yang diproduksi dapat lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Meski demikian, Ricky mengingatkan bahwa perkembangan AI juga membawa tantangan besar, terutama meningkatnya penyebaran hoaks, disinformasi, misinformasi, hingga munculnya teknologi deepfake atau manipulasi konten digital yang semakin sulit dibedakan oleh publik.

“AI memang mempermudah proses produksi konten, termasuk video dan gambar berkualitas tinggi. Namun, di sisi lain, kita juga harus memiliki kode etik dalam memanfaatkannya,” katanya.

Ia menegaskan bahwa media memiliki tanggung jawab besar dalam mengedukasi masyarakat terkait penggunaan AI. Salah satu langkah penting yang harus dilakukan ialah menjaga transparansi terhadap konten yang diproduksi menggunakan bantuan AI agar publik dapat memahami dan membedakan mana konten asli dan mana yang dihasilkan teknologi.

Menurutnya, prinsip human in the loop harus tetap diterapkan dalam dunia jurnalistik. Artinya, setiap produk jurnalistik tetap harus melalui proses kurasi, verifikasi, dan penilaian manusia sebelum dipublikasikan kepada masyarakat.

“AI mungkin bisa menulis narasi dengan baik, tetapi empati, tanggung jawab moral, dan integritas tetap hanya dimiliki manusia,” jelasnya.

Selain membahas etika penggunaan AI, peserta juga diperkenalkan dengan konsep dasar perkembangan teknologi AI, mulai dari Artificial Intelligence, Machine Learning, Deep Learning, hingga Generative AI atau Gen AI yang saat ini populer digunakan melalui berbagai platform seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude.

Dalam sesi praktik, peserta diajak memahami cara kerja AI melalui permainan Quick, Draw! milik Google. Melalui simulasi tersebut, peserta diperlihatkan bagaimana AI belajar mengenali pola berdasarkan data dan input yang diberikan manusia.

Ricky juga mengingatkan peserta agar tidak sepenuhnya bergantung pada jawaban AI, terutama untuk kebutuhan akademik, kesehatan, maupun penelitian. Menurutnya, AI terkadang hanya menghubungkan pola informasi yang dianggap relevan, meskipun belum tentu didukung teori yang tepat.

Pada sesi akhir, peserta diperkenalkan dengan teknik prompting atau cara memberikan instruksi kepada AI agar menghasilkan jawaban yang lebih efektif dan sesuai kebutuhan. Ia menjelaskan bahwa prompting memiliki struktur dasar berupa persona, task, context, dan format sebagai cara sederhana untuk memaksimalkan penggunaan AI secara tepat dan bertanggung jawab.

Laporan: Andi Mahfud

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|