Oleh: M. Djufri Rachim (Jurnalis dan Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UHO)
Pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump beberapa waktu lalu sesungguhnya membahas isu-isu besar dunia: perdagangan, keamanan global, teknologi, hingga stabilitas geopolitik. Namun yang justru paling ramai diperbincangkan publik digital bukanlah isi pertemuan tersebut.
Media sosial malah dipenuhi perdebatan mengenai hal-hal simbolik: posisi duduk, ukuran kursi, gestur tubuh, ekspresi wajah, hingga isu “kursi pendek” yang viral di berbagai platform.
Fenomena itu menunjukkan diplomasi global kini tidak lagi hanya berlangsung di ruang negosiasi, tetapi juga di ruang visual media digital. Politik internasional telah memasuki era ketika simbol, kamera, dan viralitas sering kali lebih menentukan persepsi publik dibanding isi substansi diplomasi itu sendiri.
Di masa lalu, diplomasi merupakan aktivitas yang cenderung tertutup dan elitis. Publik baru mengetahui hasil akhirnya melalui konferensi pers atau dokumen resmi negara. Namun perkembangan media digital telah mengubah wajah diplomasi secara fundamental.
Kini, setiap detik pertemuan antar-pemimpin dunia dapat direkam, dipotong menjadi video pendek, lalu disebarkan secara masif melalui TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, hingga platform X.
Dalam situasi seperti itu, simbol visual menjadi sangat penting. Gestur kecil dapat ditafsirkan sebagai pesan politik besar. Cara berjabat tangan dapat dianggap menunjukkan dominasi. Posisi duduk dapat dibaca sebagai relasi kekuasaan. Bahkan sebuah kursi dapat berubah menjadi simbol geopolitik global.
Di sinilah diplomasi modern bersentuhan dengan teori semiotika yang dikembangkan Roland Barthes. Barthes menjelaskan bahwa objek visual tidak pernah benar-benar netral. Sebuah gambar, simbol, atau tata ruang selalu mengandung makna yang diproduksi dan ditafsirkan secara sosial.
Dalam konteks pertemuan Trump dan Xi, “kursi pendek” akhirnya bukan lagi sekadar kursi, melainkan simbol yang diproduksi publik digital sebagai tanda dominasi, penghormatan, bahkan penghinaan.
Masalahnya, media sosial bekerja bukan berdasarkan kedalaman informasi, melainkan kecepatan perhatian. Algoritma platform digital lebih menyukai sesuatu yang emosional, visual, dan kontroversial dibanding penjelasan panjang mengenai negosiasi tarif perdagangan atau stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Akibatnya, publik global lebih mudah mengingat simbol visual dibanding substansi diplomasi.
Inilah yang oleh Guy Debord disebut sebagai society of the spectacle atau masyarakat tontonan. Dalam masyarakat digital modern, realitas politik berubah menjadi pertunjukan visual yang dikonsumsi secara massal. Politik internasional tidak lagi sekadar urusan kebijakan negara, tetapi juga konten yang diperebutkan dalam ekonomi perhatian (attention economy).
Tidak mengherankan jika media global pun ikut terjebak dalam logika yang sama. Banyak pemberitaan lebih menonjolkan detail simbolik ketimbang isi pembicaraan resmi. Media sosial kemudian memperbesar narasi tersebut melalui meme, potongan video, dan komentar viral. Dalam hitungan jam, persepsi publik dunia dapat terbentuk hanya dari satu cuplikan gambar.
Di sinilah media tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga memilih fakta mana yang dianggap penting untuk ditonjolkan. Ketika media lebih fokus pada simbol visual dibanding isi diplomasi, maka perhatian publik pun bergeser dari substansi menuju sensasi.
Padahal, substansi pertemuan Trump dan Xi sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar polemik kursi. Kedua negara sedang berupaya menjaga stabilitas hubungan ekonomi dan politik dunia yang semakin kompleks. Persaingan teknologi, perang tarif, rantai pasok global, hingga posisi Taiwan merupakan isu strategis yang memengaruhi jutaan manusia di berbagai negara.
Namun isu-isu besar itu justru tenggelam oleh viralitas simbolik yang lebih mudah dikonsumsi algoritma media sosial.
Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana diplomasi modern semakin sadar kamera. Pertemuan antarnegara hari ini tidak hanya dipersiapkan untuk para diplomat, tetapi juga untuk publik digital global. Sudut pengambilan gambar, posisi pemimpin negara, tata ruang, pencahayaan, hingga ekspresi wajah menjadi bagian dari komunikasi politik internasional.
Dalam konteks ini, diplomasi telah berubah menjadi performative diplomacy—diplomasi yang dipentaskan. Negara tidak hanya bernegosiasi melalui kebijakan, tetapi juga melalui citra visual yang dikonsumsi publik dunia. Kamera menjadi arena baru pertarungan geopolitik.
China memahami pentingnya simbol stabilitas dan kekuatan visual negara. Sementara Trump selama ini dikenal sangat sadar media dan terbiasa menggunakan perhatian publik sebagai modal politik. Ketika keduanya bertemu, yang terjadi bukan hanya perundingan bilateral, tetapi juga pertarungan citra di ruang digital global.
Fenomena tersebut sekaligus memperlihatkan sisi problematik budaya komunikasi digital hari ini. Publik semakin terbiasa mengonsumsi informasi secara cepat, pendek, dan visual. Akibatnya, ruang diskusi publik sering kehilangan kedalaman analisis. Politik direduksi menjadi gestur. Diplomasi berubah menjadi meme. Dan isu global yang kompleks dipahami hanya melalui potongan video beberapa detik.
Kondisi itu sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Simbol memang bagian penting dari komunikasi politik. Namun masalah muncul ketika simbol menggantikan substansi secara total. Ketika publik lebih sibuk memperdebatkan kursi dibanding membahas arah ekonomi global, maka ruang demokrasi informasi perlahan bergerak menuju budaya sensasi.
Pada titik inilah media massa profesional masih memiliki peran penting. Media tidak cukup hanya mengejar viralitas, tetapi juga harus mengembalikan konteks, kedalaman, dan rasionalitas dalam ruang publik. Tugas jurnalisme bukan sekadar mengikuti arus algoritma, melainkan membantu masyarakat memahami makna di balik sebuah peristiwa global.
Sebab di era digital hari ini, dunia tidak hanya dipengaruhi oleh kekuatan ekonomi dan militer, tetapi juga oleh kemampuan membentuk persepsi publik melalui simbol dan media. Sebuah kursi dapat berubah menjadi pesan politik. Sebuah kamera dapat menjadi arena diplomasi. Dan media sosial dapat membentuk opini global bahkan sebelum diplomasi resmi selesai dilakukan.
Pada akhirnya, diplomasi modern bukan lagi sekadar pertemuan antarnegara. Ia telah menjadi pertunjukan komunikasi global yang berlangsung di hadapan miliaran mata pengguna media sosial dunia. ([email protected])

1 hour ago
3

















































