Momen Kelas 6B-CIBI MI Ummushabri foto bersama. FOTO: IST
Oleh: Meyshiu (Siswa Kelas 6B Ummushabri)
SULTRAKINI.COM: Sabtu, 30 Mei, menjadi hari yang berbeda dari hari-hari biasanya. Sejak pagi buta, suasana di Hotel Claro Kendari sudah dipenuhi wajah-wajah ceria para murid, orang tua, dan guru yang datang untuk menghadiri acara penamatan siswa PAUD, MI, MTs, dan MA Ummushabri.
Bagi sebagian orang, acara penamatan mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi kami, hari itu adalah penutup dari perjalanan panjang yang telah kami lalui selama enam tahun di bangku sekolah tingkat MI (Madrasah Ibtidayah).
Bahkan persiapan sudah dimulai sejak malam sebelumnya. Banyak orang tua dan siswa memilih menginap di hotel agar tidak terlambat menghadiri acara yang dimulai pukul 08.00 Wita. Saya sendiri harus bangun pukul 05.00 pagi karena akan dirias oleh ibu saya sebelum menuju ke ruang acara, lantai dua hotel. Ada pula teman-teman yang begitu bersemangat hingga tidur larut malam. Bahkan ada yang mengaku baru tidur sekitar pukul 01.00 dini hari dan kembali terbangun beberapa saat kemudian karena tidak sabar menunggu hari yang dinanti-nantikan itu.
Ketika seluruh peserta telah berada di dalam ruangan, acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Ummushabri. Suasana terasa khidmat sekaligus mengharukan. Setelah itu, para tamu disuguhi berbagai penampilan dari siswa, mulai dari tarian hingga drama yang dibawakan oleh murid tingkat PAUD, MI dan MTs.
Tepuk tangan berkali-kali memenuhi ruangan. Orang tua tampak bangga menyaksikan putra-putri mereka tampil di atas panggung. Sebagian mengabadikan momen tersebut dengan telepon genggam, sementara yang lain hanya tersenyum sambil menikmati setiap penampilan.
Namun bagian yang paling ditunggu akhirnya tiba.
Satu per satu siswa yang telah menyelesaikan pendidikannya dipanggil ke atas panggung. Mereka menerima medali dan ijazah sebagai tanda kelulusan. Momen itu terasa istimewa karena setiap siswa yang maju ke depan tidak hanya menerima penghargaan, tetapi juga diperkenalkan melalui tayangan profil singkat yang menampilkan cita-cita mereka.
Di layar besar, berbagai impian masa depan bermunculan.
Ada yang bercita-cita menjadi dokter untuk membantu orang sakit. Ada yang ingin menjadi presiden agar bisa memimpin bangsa. Ada pula yang bermimpi menjadi tentara, pengusaha, hingga pemain sepak bola profesional.
Ketika melihat tayangan cita-cita teman-teman, saya menyadari bahwa setiap orang memiliki mimpi yang berbeda. Namun semuanya sama-sama berharga.
Sementara itu, cita-cita saya adalah menjadi seorang guru.
Menurut saya, guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengajarkan kebaikan, kedisiplinan, dan nilai-nilai kehidupan kepada murid-muridnya. Tanpa guru, mungkin banyak orang tidak akan bisa meraih impian mereka.
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, kebahagiaan belum berakhir. Kami masih ingin mengabadikan momen bersama teman-teman, guru, dan orang tua. Awalnya kami berencana melanjutkan sesi foto ke sebuah studio foto. Namun setelah mengikuti acara sejak pagi, banyak teman mulai terlihat kelelahan.
Beberapa mengeluh capek. Ada yang hanya ingin duduk beristirahat, sementara yang lain sudah tidak sabar ingin pulang.
Akhirnya rencana berfoto di studio dibatalkan.
Meski demikian, pembatalan itu tidak mengurangi kegembiraan kami. Sebelum pulang, kami memanfaatkan panggung acara sebagai tempat berfoto bersama. Guru, orang tua, dan murid saling bergantian mengabadikan momen. Rasanya hampir tidak ada sudut panggung yang luput dari jepretan kamera.
Bahkan jika dihitung-hitung, mungkin kelas 6B menjadi kelompok yang paling banyak berfoto hari itu.
Kami tahu, setelah hari tersebut, kami tidak akan lagi berkumpul setiap pagi di ruang kelas yang sama. Tidak ada lagi tugas kelompok, tidak ada lagi canda di sela pelajaran, dan tidak ada lagi kebiasaan saling meminjam alat tulis saat belajar.
Karena itulah setiap foto terasa begitu berharga.
Saat matahari mulai beranjak siang, tibalah saat yang paling sulit: berpamitan.
Satu per satu teman saling berjabat tangan. Ada yang tertawa, ada yang berpelukan, bahkan ada yang tampak menahan haru. Kami saling mendoakan agar bisa bertemu kembali di masa depan dengan cerita dan kesuksesan masing-masing.
Hari itu bukan hanya tentang menerima medali atau ijazah.
Hari itu adalah tentang kenangan, persahabatan, dan mimpi-mimpi yang mulai kami bawa menuju masa depan.
Dan bagi kami, Sabtu, 30 Mei 2026, akan selalu menjadi salah satu hari yang tak akan pernah terlupakan. ***

7 hours ago
5

















































