SULTRAKINI.COM: KENDARI— Kepala Tata Usaha UPTD Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sulawesi Tenggara, Harmilla, menekankan pentingnya inovasi dalam pengelolaan sampah kepada mahasiswa. Pesan itu ia sampaikan saat memberikan materi edukasi persampahan dalam kegiatan literasi dan investasi lingkungan yang diikuti para Dosen dan mahasiswa Fisip Uho.
Dalam pemaparannya, Harmilla memperkenalkan sejumlah produk hasil pengelolaan sampah yang telah dikembangkan dan diuji langsung oleh timnya di kantor DLH Sultra.
Beberapa produk tersebut meliputi:
1. Minyak jelantah daur ulang
Limbah minyak goreng rumah tangga dikumpulkan dan diolah kembali sehingga tidak mencemari lingkungan.
2. Ember tumpuk komposter
Sistem kompos sederhana menggunakan dua ember bertumpuk yang dapat dipakai masyarakat untuk mengolah sampah organik sehari-hari.
3. Sabun dan pembersih berbahan Eco Enzyme
Eco Enzyme dibuat dari kulit jeruk hasil kegiatan bersih-bersih sekolah. Cairan ini difermentasi tiga bulan dan dimanfaatkan sebagai pembersih alami, bahan sabun, hingga penghilang bau pada kompos.
“Kalau komposnya ada bau, cukup teteskan Eco Enzyme, langsung hilang,” jelas Harmilla.
Salah satu inovasi yang paling menarik perhatian ialah hasil kolaborasi DLH Sultra dengan Bank Indonesia (BI). Harmilla menyebut bahwa pihaknya berhasil mengolah uang rusak menjadi produk furnitur ramah lingkungan.
Ia mencontohkan sebuah meja yang dipamerkan saat kegiatan.
“Meja ini dibuat dari limbah uang kertas. Satu meja saja berisi sekitar 25 Kilo pecahan seratus ribu yang sudah tidak layak edar,” ungkapnya.
Produk tersebut kini sudah dipajang di kantor BI. Namun, DLH tidak diperkenankan menjualnya karena aturan internal BI. Proses pengambilan bahan pun dilakukan dengan sistem penjemputan langsung ke pihak bank.
Meski inovasinya banyak, Harmilla menegaskan bahwa pengelolaan sampah tetap memiliki tantangan besar.
Ia menyebut beberapa di antaranya:
Stigma masyarakat, yang masih menganggap pengelolaan sampah sebagai pekerjaan kotor.
Kesulitan akses pasar, terutama untuk pelaku bank sampah baru yang belum mengetahui ke mana harus menjual hasil olahannya.
Minimnya komunikasi publik, sehingga banyak kegiatan bank sampah tidak terdengar luas.
“Kadang kita sudah semangat, tapi bingung mau jual ke mana. Ini sering dihadapi anak muda yang baru mau bikin bank sampah,” ucapnya.
Menurut Harmilla, beberapa langkah penting agar bank sampah bisa bertahan, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi adalah:
1. Menentukan tujuan yang jelas
2. Membangun jaringan dengan berbagai pihak, termasuk pelaku bank sampah lain
3. Peka terhadap tantangan sosial, seperti kebiasaan masyarakat dan budaya memilah sampah
4. Memanfaatkan peluang kolaborasi, misalnya dengan pemerintah, lembaga pendidikan, atau sektor swasta
“Dengan strategi yang tepat, bukan hanya lingkungan yang terbantu, tapi kita juga bisa membuka peluang usaha baru,” tegasnya.
Dalam Wawancaranya, Harmilla mengatakan bahwa generasi muda saat ini jauh lebih melek investasi dibanding generasi sebelumnya, termasuk pada instrumen seperti saham. Ia berharap pemahaman tersebut bisa dikaitkan dengan bidang persampahan, bahwa pengolahan sampah pun memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan.
“Anak-anak sekarang sudah memahami saham, berbeda dengan kita dulu. Ini membuat saya yakin bahwa sektor persampahan pun bisa menjadi aset menjanjikan jika dikelola dengan inovasi,” kata Harmilla.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah ekobrik berbahan dasar limbah uang kertas hasil pemusnahan oleh Bank Indonesia.
“Ekobrik yang kami bawa ini berasal dari limbah uang kertas. Kami ingin mengedukasi adik-adik agar lebih merawat uang. Bila tidak dirawat, uang itu menjadi limbah rasik yang tidak bermanfaat. Tapi kami olah kembali menjadi ekobrik yang bernilai,” jelasnya.
Harmilla menyebutkan bahwa penggunaan limbah uang kertas menjadi ekobrik telah memberi nilai tambah sekaligus mendidik masyarakat untuk lebih peduli pada pengelolaan sampah berbasis bahan baku tidak lazim.
Ia juga menyinggung inovasi lain seperti budidaya maggot yang di beberapa daerah telah terbukti ekonomis.
“Maggot itu sebenarnya sangat menghasilkan. Tapi mahasiswa perlu dapat pelatihan khusus. Saya rasa perlu dibuat kegiatan tentang maggot dengan dukungan dana CSR. Banyak daerah seperti Punawe dan Koko Ato sudah menjalankan usaha ini,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Harmilla berharap kegiatan edukasi seperti ini bisa lebih sering dilakukan. Ia mendorong adanya bank sampah mahasiswa yang benar-benar aktif dan memiliki saldo tabungan dari hasil pemilahan sampah.
Ia juga menyebutkan adanya peluang kerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang turut mengedukasi tentang literasi keuangan.
“Tadi saya sudah bicara dengan OJK, dan mereka tertarik mengedukasi juga. Banyak produk uang digital yang bisa dimanfaatkan, bahkan menabung Rp5.000 pun bisa jadi investasi masa depan,” jelasnya.
Menurut Harmilla, kolaborasi edukasi persampahan dan literasi keuangan akan memperkuat budaya mahasiswa dalam mengelola sampah secara inovatif sekaligus melihat nilai ekonominya.
Harmilla menutup penyampaiannya dengan ajakan agar mahasiswa ikut bergerak menjaga lingkungan. Menurutnya, setiap orang memiliki peran dalam menciptakan perubahan.
“Sampah punya potensi besar. Kita hanya perlu semangat, mau belajar, dan mau bergerak,” pungkasnya.
Laporan: Andi Mahfud

1 week ago
16















































