Kopi Rumput Laut Sambut MABA Jurusan Budidaya Perairan UHO

5 hours ago 10

SULTRAKINI.COM: Ada yang unik saat penerimaan mahasiswa baru (MABA) di Jurusan Budidaya Perairan (BDP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Universitas Halu Oleo (UHO), Jumat, 14 Agustus 2026. Jika pada tahun-tahun sebelumnya para mahasiswa baru disambut dengan sajian yang relatif sederhana, seperti segelas air mineral dan kue, tahun ini suasananya terasa berbeda. Kopi rumput laut menjadi sajian pembeda sekaligus simbol inovasi yang diperkenalkan kepada para mahasiswa baru.

Mengapa kopi rumput laut disajikan dalam kegiatan penyambutan MABA? Ketua Jurusan BDP, Dr. Wellem H. Muskita, menjelaskan bahwa sajian tersebut merupakan bentuk apresiasi Jurusan BDP terhadap kedatangan para mahasiswa baru yang memilih BDP sebagai tempat menempuh pendidikan sarjana. Menurutnya, peningkatan jumlah mahasiswa baru tahun ini merupakan sesuatu yang patut disyukuri dan diapresiasi.

“Mahasiswa baru tahun ini meningkat cukup signifikan. Jumlahnya sudah lebih dari 30 orang. Mereka tidak hanya berasal dari Sulawesi Tenggara, tetapi juga dari luar daerah, termasuk dari Maluku Utara,” jelas Wellem.

Menurut Wellem, meningkatnya minat generasi muda, khususnya Gen Z, untuk memilih bidang Budidaya Perairan menunjukkan bahwa sektor perikanan dan akuakultur masih memiliki daya tarik dan prospek yang besar. Karena itu, penyambutan mahasiswa baru tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkenalkan sejak awal bahwa dunia budidaya perairan sangat dekat dengan inovasi, teknologi, kewirausahaan, dan pemanfaatan sumber daya perairan secara berkelanjutan.

Wellem juga mengapresiasi inovasi kopi rumput laut yang dikembangkan oleh salah satu dosen senior Jurusan BDP sekaligus mantan Dekan FPIK UHO, Prof. La Ode M. Aslan. Produk tersebut merupakan hasil rangkaian eksperimen dan pengembangan yang telah dilakukan selama kurang lebih empat tahun. Menurutnya, inovasi seperti ini penting karena menunjukkan bahwa rumput laut tidak harus selalu dipandang sebagai komoditas yang dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk pangan dan minuman bernilai tambah.

“Kami sangat mengapresiasi inovasi ini. Mudah-mudahan kopi rumput laut dapat menjadi salah satu ciri minuman sehat dan berserat yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh mahasiswa,” ujar Wellem.

Bagi Prof. La Ode M. Aslan, penyajian kopi rumput laut kepada mahasiswa baru juga memiliki makna tersendiri. Rumput laut selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan pesisir Sulawesi Tenggara. Namun, sebagian besar pemanfaatannya masih berada pada tahap bahan baku. Padahal, dengan sentuhan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kreativitas, rumput laut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk pangan fungsional dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Karena itu, memperkenalkan kopi rumput laut kepada mahasiswa sejak hari pertama mereka memasuki lingkungan akademik bukan sekadar menawarkan minuman. Ada pesan pendidikan dan inovasi yang ingin disampaikan: bahwa mahasiswa BDP tidak hanya belajar bagaimana membudidayakan organisme perairan, tetapi juga dituntut mampu melihat peluang pengembangan produk dari hasil budidaya hingga menjadi produk bernilai tambah.

Antusiasme mahasiswa baru terlihat ketika kopi tersebut disajikan dalam kegiatan penerimaan dan pengenalan Jurusan BDP yang berlangsung di aula jurusan. Para mahasiswa tampak penasaran mencoba minuman yang bagi sebagian besar dari mereka merupakan sesuatu yang baru. Setelah mencicipinya, respons yang muncul justru cukup positif.

Hampir seluruh mahasiswa baru yang mencicipi menyampaikan apresiasi dan menilai kopi rumput laut memiliki cita rasa yang enak dan dapat dinikmati. Respons positif tersebut menjadi kejutan tersendiri karena sebelumnya sebagian mahasiswa mungkin membayangkan bahwa minuman berbahan rumput laut akan memiliki aroma atau rasa khas laut yang kuat.

Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Dr. Wellem yang mewakili para dosen BDP. Menurutnya, kopi rumput laut ternyata tidak hanya menarik perhatian mahasiswa baru, tetapi juga mendapat respons positif dari para dosen yang hadir dan turut mencicipi kopi rumput laut tersebut saat acara penyambutan dan pengenalan Jurusan BDP.

Dari secangkir kopi, ada pesan yang jauh lebih besar yang ingin dibangun Jurusan BDP: bahwa inovasi dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir. Rumput laut yang selama ini tumbuh di laut dan menjadi sumber penghidupan pembudidaya dapat diolah menjadi produk baru yang lebih dekat dengan konsumen, termasuk generasi muda.

Bagi mahasiswa baru BDP, pengalaman mencicipi kopi rumput laut pada hari pertama mereka memasuki dunia perkuliahan juga dapat menjadi sebuah pengingat bahwa ilmu yang mereka pelajari di kampus tidak berhenti di ruang kelas atau laboratorium. Ilmu budidaya perairan memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan menjadi inovasi pangan, industri, kewirausahaan, hingga penguatan ekonomi masyarakat pesisir.

Ke depan, inovasi kopi rumput laut diharapkan tidak berhenti sebagai sajian dalam acara penyambutan mahasiswa baru. Produk tersebut dapat terus dikembangkan melalui pengujian kualitas, formulasi bahan, uji kesukaan konsumen, pengemasan, hingga pengembangan skala produksi. Dengan demikian, kopi rumput laut dapat menjadi salah satu contoh nyata bagaimana hasil riset perguruan tinggi dapat bergerak dari laboratorium menuju meja konsumen.

Lebih jauh lagi, momentum penyambutan MABA di Jurusan BDP tahun ini seolah menjadi simbol bahwa BDP UHO ingin menyambut generasi baru dengan semangat baru: dari budidaya menuju inovasi, dari komoditas menuju produk bernilai tambah, dan dari kampus menuju manfaat nyata bagi masyarakat. Kopi rumput laut pun menjadi lebih dari sekadar minuman penyambutan—ia menjadi secangkir inovasi yang memperkenalkan kepada mahasiswa baru bahwa masa depan perikanan dan kelautan berada di tangan generasi yang mampu menggabungkan ilmu pengetahuan, kreativitas, dan keberanian berinovasi.

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|