SULTRAKINI.COM: KENDARI- Pada Upacara Hari Guru Nasional yang dilaksanakan di SMA 2 Negeri Kota Kendari, Hadir Kasatgaswil Densus 88 AT Polri Sulawesi Tenggara, Kombes Pol Mas Jaya, M.Si, menegaskan pentingnya peran guru dan orangtua dalam mencegah kekerasan, perundungan, hingga potensi radikalisme yang kini mulai menyasar anak-anak sekolah. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan pendampingan keamanan dan penguatan karakter pelajar yang digelar bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra.
Dalam Sambutannya, Kombes Mas Jaya menjelaskan bahwa Densus 88 memiliki dua fungsi besar, yaitu pencegahan dan pembinaan sosial, yang kini semakin difokuskan pada lingkungan sekolah.
“Fenomena baru sekarang mengarah ke anak-anak sekolah—SMA, SMP. Banyaki kejadian yang melibatkan anak usia belia. Kami harus hadir karena ini bagian dari konsep negara, terutama terkait penguatan ideologi Pancasila dan toleransi,” ujarnya.
Ia mencontohkan sejumlah kasus yang pernah ditangani, termasuk kejadian di salah satu SMA di Jakarta, di mana seorang siswa dengan usia masih sangat muda mampu merangkai bahan peledak hingga menimbulkan korban.
“Kejadian-kejadian seperti ini terjadi karena dianggap sepele. Ada ratusan anak di bawah umur yang kami tangani. Mereka belajar dari media sosial: cara melakukan kekerasan, membuat bahan peledak, dan lainnya,” jelasnya.
Menurutnya, sebagian besar kasus yang ditangani melibatkan anak-anak yang mengalami masalah keluarga, terutama broken home.
“Hampir 90 persen anak-anak yang kami tangani berasal dari keluarga yang orangtuanya berpisah atau bermasalah. Karena itu peran guru sangat penting untuk membina karakter dan memantau perubahan perilaku siswa,” tegasnya.
Dalam wawancara lanjutan, Mas Jaya mengungkap bahwa media sosial kini menjadi pintu masuk terbesar penyimpangan perilaku remaja.
“Media sosial itu sekarang penuh pencerahan palsu: bullying, kekerasan, konten-konten ekstrem. Itu yang mengarahkan anak-anak. Makanya kita harus melakukan pencegahan, bukan menunggu sampai mereka terlanjur melakukan,” katanya.
Ia menilai bahwa program pencegahan harus berjalan di sekolah maupun di rumah, sebab usia SMP–SMA merupakan fase paling rentan.
Kombes Mas Jaya menekankan bahwa keberhasilan pencegahan hanya dapat dicapai jika ada komunikasi yang kuat antara guru dan orangtua.
“Guru bukan hanya mengajar, tapi juga mendidik dan membina. Jadi harus ada komunikasi rutin antara guru dan orangtua. Minimal sebulan sekali, untuk melihat perkembangan anak,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa guru harus mendekati siswa dengan hati, karena anak-anak hari ini hidup dalam kondisi mental yang labil dan mudah terpengaruh.
“Kalau tidak ada kedekatan hati ke hati, sulit. Mereka ini penentu masa depan bangsa. Kita tidak bisa bekerja sendiri; harus ada dukungan sekolah, orangtua, kementerian pendidikan, semuanya,” ucapnya.
Densus 88 bersama Dinas Pendidikan dan berbagai kementerian terkait tengah menyiapkan program pencegahan yang lebih terstruktur untuk mengantisipasi pengaruh negatif digital terhadap pelajar.
“Kita sudah berkoordinasi dengan pusat, beberapa kementerian sudah terlibat. Kedepannya kita akan buat program penjagaan khusus bagi anak-anak sekolah,” tutup Mas Jaya.
Laporan: Andi Mahfud

5 days ago
17















































