SULTRAKINI.COM: KENDARI — Menjelang bulan suci Ramadan, harga sejumlah bahan pangan di Pasar Tradisional Mandonga, Kota Kendari, mulai menunjukkan tren kenaikan, khususnya pada komoditas telur dan ayam ras.
Salah seorang pedagang telur di Pasar Mandonga, Nasrullah, mengungkapkan bahwa harga telur ayam ras saat ini mengalami kenaikan dibanding sepekan sebelumnya. Kenaikan tersebut berada di kisaran Rp2.000 hingga Rp3.000 per rak.
“Sekarang harga telur itu naik, naiknya sekitar Rp2.000 sampai Rp3.000 per rak. Sebelumnya itu sekitar Rp53.000, sekarang sudah Rp55.000,” ujar Nasrullah saat ditemui di lapaknya, Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, kenaikan harga menjelang Ramadan merupakan pola yang hampir selalu terjadi setiap tahun. Lonjakan permintaan masyarakat menjadi faktor utama yang mendorong harga ikut naik.
“Biasanya besar kemungkinan menjelang bulan puasa nanti akan naik lagi, seperti pengalaman tahun lalu. Kalau sudah hari-hari besar seperti puasa, tahun baru, dan lainnya, pasti ada kenaikan,” katanya.
Nasrullah menjelaskan, pasokan telur yang dijualnya berasal dari beberapa daerah di Sulawesi Selatan, seperti Sidrap, Bulukumba, dan Pinrang. Selain itu, ia juga mengambil stok dari wilayah Sulawesi Tenggara, termasuk Kendari, untuk memenuhi kebutuhan dagangannya.
“Telur yang saya jual ini saya ambil sendiri dari Sidrap, Bulukumba, Pinrang, dan ada juga dari Kendari untuk tambah stok,” jelasnya.
Meski harga mulai naik, ia memastikan ketersediaan stok telur menjelang Ramadan relatif aman.
“Untuk stok menjelang bulan puasa insyaallah aman,” ujarnya.
Ia menambahkan, harga telur di pasaran juga bervariasi tergantung ukuran, mulai dari ukuran kecil, sedang (setengah), hingga besar, yang masing-masing memiliki perbedaan harga jual.
Selain telur, harga ayam potong di Pasar Tradisional Mandonga saat ini masih terpantau normal. Untuk ayam ras ukuran kecil dijual di kisaran Rp65.000 per ekor, sedangkan ukuran jumbo berada di kisaran Rp75.000 per ekor.
“Kalau ayam potong sekarang masih normal, yang kecil sekitar Rp65.000, yang jumbo Rp75.000,” ungkapnya.
Selain menjual telur ayam ras, Nasrullah mengaku untuk sementara tidak menyediakan jenis telur lain seperti telur ayam kampung, bebek, maupun burung puyuh. Hal tersebut disebabkan harga yang naik cukup drastis serta keterbatasan stok.
“Telur lain sementara saya tidak jual, seperti telur kampung, bebek, sama puyuh, karena harganya naik sekali, takutnya minat pembeli kurang,” katanya.
Khusus telur bebek asin, ia menyebut harganya kini telah menembus angka ratusan ribu rupiah per rak, padahal sebelumnya masih berada di kisaran Rp75.000 hingga Rp80.000.
“Telur bebek asin itu sekarang sudah ratusan ribu per rak. Dulu masih Rp75.000 sampai Rp80.000. Jadi saya tidak jual juga karena stok kurang,” tambahnya.
Nasrullah sendiri telah berjualan telur di Pasar Tradisional Mandonga selama hampir tiga tahun. Ia menilai fluktuasi harga bahan pangan menjelang Ramadan sudah menjadi siklus tahunan yang tidak bisa dihindari pedagang.
“Kalau mau masuk Ramadan memang biasa harga naik. Kami pedagang menyesuaikan saja dari harga barang yang masuk,” pungkasnya.
Laporan: Andi Mahfud

1 day ago
3

















































