Ekonomi Sulawesi Tenggara Tumbuh 5,79 Persen, Melampaui Rata-rata Nasional

2 days ago 9

SULTRAKINI.COM: KENDARI,– Perekonomian Sulawesi Tenggara mencatatkan performa solid sepanjang tahun 2025 dengan pertumbuhan mencapai 5,79 persen (year-on-year/yoy). Angka ini tidak hanya melampaui capaian tahun sebelumnya yang sebesar 5,40 persen, tetapi juga berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,11 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara, Edwin Permadi, mengungkapkan bahwa akselerasi ini dipicu oleh ekspansi sektor jasa keuangan, geliat konsumsi domestik, serta transformasi digital yang semakin inklusif. Kendati demikian, tantangan inflasi akibat fluktuasi harga komoditas global dan faktor cuaca mulai membayangi di awal tahun 2026.

Dari sisi penawaran, Lapangan Usaha (LU) Jasa Keuangan menjadi motor utama dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 17,27 persen (yoy).

Menurut Edwin, ekspansi kredit dan masifnya transaksi digital menjadi pendorong utama di sektor ini.

Selain itu, sektor akomodasi serta makan dan minum turut terdongkrak signifikan sejalan dengan implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penyelenggaraan berbagai ajang skala nasional di Sulawesi Tenggara. Dari sisi permintaan, investasi melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada kawasan industri tetap menjadi pilar penyokong.

“Pertumbuhan ekonomi yang solid ini juga tidak lepas dari perkembangan transaksi nontunai yang didukung tren akseptansi QRIS sebagai game changer pembayaran ritel masyarakat,” ujar Edwin dalam keterangannya di Kendari.

Memasuki Januari 2026, indeks harga konsumen di Sulawesi Tenggara mencatatkan inflasi sebesar 0,69 persen (month-to-month/mtm). Angka ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 (0,22 persen) dan berbanding terbalik dengan tren nasional yang justru mengalami deflasi 0,15 persen.

Kenaikan harga emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi. Edwin menjelaskan bahwa hal ini merupakan dampak rembetan dari tekanan harga emas global sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi dan instabilitas geopolitik dunia. “Instabilitas ini mendorong peningkatan permintaan komoditas safe haven seperti emas,” tambahnya.

Sementara di sektor pangan, kenaikan harga ikan laut dipicu oleh faktor alam. Gelombang laut di atas 1,5 meter menyebabkan frekuensi melaut nelayan menurun drastis pada Januari lalu, sehingga pasokan di pasar berkurang.

Menghadapi momentum Ramadan dan Idul Fitri 2026, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat sinergi melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) di delapan kabupaten/kota.

Guna menjamin kelancaran transaksi masyarakat, Edwin menyatakan bahwa BI menyelenggarakan Program SERAMBI (Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idulfitri) 2026. BI Sultra telah menyiapkan Uang Layak Edar (ULE) sebesar Rp1,2 triliun.

“Tahun ini, kami meningkatkan plafon penukaran menjadi Rp5,3 juta per orang, atau naik 23,2 persen dibandingkan tahun lalu. Kami ingin memastikan kebutuhan uang Rupiah masyarakat terpenuhi secara merata, mudah, dan tertib melalui sistem digital PINTAR,” pungkas Edwin.

Laporan: Riswan

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|