SULTRAKINI.COM: KENDARI — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo resmi meluncurkan Bank Sampah FISIP melalui kegiatan Seminar Enviropreneur bertema “Mengubah Sampah Menjadi Uang.” Acara yang berlangsung di Aula Bahtiar FISIP ini dihadiri mahasiswa, dosen, serta mitra dari OJK, Dinas Lingkungan Hidup, Bursa Efek Indonesia, dan LSM pengelola sampah.
Dekan FISIP UHO, Prof. Dr. Eka Suaib, M.Si., meresmikan langsung program tersebut dan menegaskan bahwa pengelolaan sampah di kampus bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi gerakan akademik yang harus melibatkan mahasiswa secara aktif.
Dalam sambutannya, Prof. Eka menjelaskan bahwa ide pengelolaan sampah ini pernah muncul melalui inisiasi CIPI dua tahun lalu namun belum sempat terealisasi sepenuhnya.
“Saat Pak Purnowo dan Pak Husriadi membawa kembali ide ini, saya langsung teringat gagasan yang dulu belum tuntas. Ini momentum untuk menyempurnakannya,” katanya.
Ia juga menyinggung bahwa mahasiswa FISIP pernah meraih prestasi nasional dalam kategori Sosial Humaniora melalui program CIPI, membuktikan bahwa mahasiswa memiliki potensi besar dalam inovasi sosial dan lingkungan.
Dekan menekankan bahwa sampah bukan lagi dilihat sebagai beban, tetapi peluang. Ia mendorong mahasiswa untuk melihat pengelolaan sampah sebagai bagian dari praktik ekonomi dan kreativitas.
“Anak-anak bisnis itu harus tahu bagaimana mencari uang. Ini dunia kapitalisme. Sampah di tangan orang progresif bisa menjadi sesuatu yang bernilai,” tegasnya.
FISIP sendiri telah menyiapkan fasilitas pendukung seperti titik pengelolaan limbah cair dan area pengomposan daun kering untuk dijadikan produk kompos.
Dalam wawancara langsung, Prof. Eka menegaskan bahwa pendirian Bank Sampah FISIP adalah bagian dari komitmen fakultas terhadap keberlanjutan.
“Ini bagian dari komitmen kami. Fisip punya program Green Metric, pengolahan limbah cair, tempat kompos, dan kini bank sampah untuk meningkatkan kepedulian mahasiswa,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sampah plastik dan limbah kampus akan dikumpulkan, dipilah, lalu dijual kepada pengepul agar bernilai ekonomis.
“Sampah plastik bisa dikumpulkan dan dijual. Itu sudah bernilai ekonomi,” tambahnya.
Program ini, katanya, diperkuat oleh kerja sama antara FISIP dan OJK, Dinas Lingkungan Hidup, LSM, serta Bursa Efek Indonesia.
Prof. Eka menegaskan bahwa mahasiswa harus memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan komitmen intelektual terhadap isu lingkungan.
“Mahasiswa harus konsern terhadap isu-isu lingkungan hidup. Itu bagian dari tanggung jawab moral mahasiswa,” ucapnya.
Prof. Eka berharap Bank Sampah FISIP dapat menjadi role model bagi kampus lain dan bahkan di tingkat kota.
“Kota Kendari sudah punya Bank Sampah BTOH sebagai model. FISIP jangan sampai kalah. Kita harus bisa lebih baik,” tegasnya
Mengakhiri sambutan, ia meresmikan program dengan mengucapkan bismillah sebagai simbol dimulainya gerakan green campus di FISIP UHO.
Laporan: Andi Mahfud

1 week ago
16















































