Mengurai Makna Filosofis Logo Kerukunan Keluarga Besar Karaeng Lembang

1 week ago 20

Oleh: Dr. Abdul Haris Sambu Daeng Matasa ( DosenUnismuh Makassar dan Pemerhati Sejarah Lokal)

INIPASTI.COM,  Dalam dinamika masyarakat modern yang kian bergerak cepat, identitas kultural sering kali terlupakan di tengah arus perubahan. Karena itu, upaya membaca kembali simbol-simbol tradisi menjadi penting untuk menjaga kesinambungan sejarah dan jati diri sebuah komunitas. Kerukunan Keluarga Besar Karaeng Lembang (KKBKL) menempatkan langkah ini sebagai komitmen, salah satunya melalui pengungkapan ulang makna filosofis logo organisasi yang selama ini menjadi penanda identitas masyarakat Lembang.

Logo KKBKL bukan sekadar gambar yang melekat pada lambang organisasi. Ia merupakan rangkuman sejarah berabad-abad yang dibingkai dalam simbol-simbol visual penuh makna. Menurut Dr. Abdul Haris Sambu Daeng Matasa, dosen Fakultas Pertanian Unismuh Makassar sekaligus pemerhati sejarah lokal, setiap unsur dalam logo memuat cerita panjang kerajaan, tokoh, serta nilai yang mengikat masyarakat Lembang hingga kini.

Unsur pertama dan paling mencolok adalah payung berwarna kuning. Warna kuning, yang tak pernah jauh dari nuansa kebangsawanan di banyak tradisi Nusantara, melambangkan kemuliaan dan kejayaan. Di sekelilingnya, 16 bintang menjadi representasi para Karaeng Lembang yang pernah memimpin negeri ini. Bintang itu tak hanya merekam angka—ia menandai kontinuitas kekuasaan, pergiliran kepemimpinan, sekaligus penegasan bahwa masyarakat Lembang bernaung di bawah satu payung kebersamaan.

Di sisi lain, hadir pohon kelapa, simbol yang mengakar kuat dalam legenda kaluku lajua di Lembanglohe. Kisah tentang kelapa raksasa di puncak bukit, dengan pelepah yang konon jatuh hingga Selayar, buah mudanya sampai ke Bulukumba, dan serabutnya terbawa ke Bantaeng, bukan sekadar cerita rakyat. Legenda itu menggambarkan betapa luasnya pengaruh dan hubungan masyarakat Lembang dengan daerah-daerah lain. Pohon kelapa menjadi metafora tentang keteguhan, ketinggian martabat, serta daya jelajah budaya.

Tak kalah menarik adalah kehadiran ayam jantan Cippaga Bahonna, ikon kesaktian dan keberanian. Ayam sabung ini disebut-sebut telah menorehkan kemenangan di berbagai gelanggang, dari Sulawesi hingga Ambon dan Ternate. Di balik kisah heroik seekor ayam laga, tersimpan karakter masyarakat Lembang yang pantang mundur, tangguh, dan disegani dalam pergaulan antarkerajaan.

Simbol berikutnya, parang panjang, merupakan penghormatan terhadap Karaeng Lembang VII, Puang Lungge Daeng Mattawang (1756–1787), yang bergelar Karaeng Labbu Berang. Parang panjang yang setia dibawanya bukan hanya alat kerja, melainkan juga lambang kesiapsiagaan seorang pemimpin dalam melindungi rakyatnya. Ia mengingatkan bahwa keberanian dan kerja keras adalah nilai dasar yang diwariskan turun-temurun.

Sementara itu, tombak dalam logo menjadi representasi kekuatan dan kewibawaan kerajaan. Tombak adalah simbol penjaga wilayah, penjaga martabat, dan penjaga harmoni sosial yang senantiasa dijaga oleh para leluhur.

Keseluruhan simbol ini menunjukkan bahwa logo KKBKL bukanlah ornamen kosong. Ia adalah narasi sejarah yang dipadatkan, sebuah ensiklopedia kultural yang berbicara tentang masa lalu dan relevansinya bagi masa kini.

Pada akhirnya, membaca kembali makna filosofis logo ini adalah upaya merawat ingatan kolektif. Dalam dunia yang serba cepat berubah, identitas budaya menjadi jangkar yang menahan kita agar tidak tercerabut dari akar. Organisasi seperti KKBKL memberikan contoh bagaimana komunitas dapat menjaga warisan leluhur sambil tetap melangkah maju.

Dan seperti dikatakan Dr. Haris Sambu, simbol-simbol itu bukan sekadar gambar, melainkan cermin perjalanan panjang dan nilai-nilai yang patut diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebuah pesan yang terasa semakin relevan: bahwa identitas adalah kekuatan, dan sejarah adalah pijakan bagi masa depan.

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|