Kerajaan Lembang: Salah Satu Kerajaan Tertua di Nusantara yang Eksis Selama 562 Tahun (1300–1862)

2 weeks ago 32

Oleh Dr. Abdul Haris Sambu Daeng Matasa ( Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar)

Sejarah Singkat Kerajaan Lembang Sebelum Penggabungan Menjadi Kerajaan Kajang

  1. Asal Mula Kerajaan Lembang

Dalam sejarah panjang Sulawesi Selatan, nama Kerajaan Lembang tercatat sebagai salah satu kerajaan tua yang berdiri sekitar tahun 1300 Masehi. Kisah tentang kelahirannya tidak hanya tertulis dalam catatan lisan masyarakat Kajang, tetapi juga hidup dalam legenda yang diwariskan turun-temurun—kisah tentang Tau Manurung, manusia yang turun dari kayangan untuk membawa peradaban kepada manusia bumi.

Dikisahkan bahwa pada masa itu, Puang Tamparang sedang berada di pesisir Jalaya ketika ia menemukan seruas bambu pattong, atau sering disebut patong silasa-lasai, yang terapung di air. Saat bambu itu dibuka, keluarlah seorang wanita cantik jelita yang kemudian dikenal sebagai Tau Manurung di Kajang. Ia diberi nama Batara Daeng Rilangi.

Puang Tamparang Daeng Malowang memperistrinya, dan dari pernikahan itu lahirlah empat orang anak yang kelak menjadi leluhur bangsawan di berbagai wilayah:

  1. Tau Tentaya Matanna, bermukim di Nanasaya;
  2. Tau Kale Bojoa, di Lembanglohe;
  3. Tau Sapayya Lilana, di Kajang; dan
  4. Tau Kadilitilia Simbolenna Sayang di Sungai Raowa bersama ibunya

Namun, kisah Tau Manurung tak berhenti di situ. Beberapa bulan kemudian terdengar kabar bahwa wanita yang sama muncul kembali di Tondong, di mana ia menikah dengan Puatta di Tondong dan melahirkan tiga orang anak. Keturunan mereka kelak menjadi sumber garis darah para Arung di Kerajaan Tondong, Bulo-Bulo, dan Lamatti di wilayah Sinjai. Inilah sebabnya mengapa Kerajaan Lembang, Kajang, dan Laikang memiliki hubungan kekerabatan yang kuat hingga kini, bahkan sering terjalin perkawinan antar-kerajaan.

Setelah melahirkan tiga anak di Tondong, ia pun menghilang dan dikabarkan muncul di Ujungloe, menikah kembali, dan melahirkan tiga anak lain yang menjadi leluhur para Karaeng Ujungloe, Karaeng Gantarang, dan Karaeng Kindang. Setelah itu, ia pun kembali lenyap. Tak lama berselang, muncul pula kisah serupa dari Takka Bassia Bukit Tamalate Gowa, bahwa seorang wanita cantik turun dari langit dan disebut Tau Manurung Bainea. Ia kemudian dinobatkan oleh Paccallayya dan Bate Salapanga sebagai Raja Gowa pertama, bergelar Sombaya, sekitar tahun 1320. Setelah menjadi raja, ia menikah dengan Karaeng Bayoa dan melahirkan seorang putra bernama Tumasalangga Barayang, yang kemudian menggantikan ibunya sebagai Raja Gowa II.

II. Berdirinya Kerajaan Lembang

Berdasarkan berbagai sumber dan perbandingan waktu munculnya berbagai Tau Manurung di wilayah Sulawesi Selatan, dapat diperkirakan bahwa Kerajaan Lembang berdiri pada tahun 1300 Masehi. Kerajaan ini terus eksis selama 562 tahun, hingga akhirnya pada 23 Oktober 1862, pemerintah kolonial Belanda memutuskan untuk menggabungkannya dengan Kerajaan Kajang dan Kerajaan Laikang, membentuk satu kesatuan baru bernama Kerajaan Kajang.

Menariknya, tanggal 23 Oktober ini memiliki makna simbolis yang kuat. Pada tanggal yang sama, Kerukunan Keluarga Besar Karaeng Lembang (KKBKL) secara resmi berdiri melalui Akta Notaris pada 23 Oktober 2023. Maka pada tahun 2025, KKBKL memperingati ulang tahunnya yang ke-2, sekaligus memperingati 725 tahun berdirinya Kerajaan Lembang—sebuah peristiwa yang menghubungkan masa lalu dan masa kini dalam satu garis sejarah panjang.

III. Letak Geografis Kerajaan Lembang

Secara geografis, wilayah Kerajaan Lembang berada di pesisir timur Sulawesi Selatan, berhadapan langsung dengan perairan Teluk Bone.

Di utara, kerajaan ini berbatasan dengan Sungai Raowa,

di timur, dengan Kerajaan Laikang (sekarang Kelurahan Laikang),

di selatan, dengan Kerajaan Hero (kini Desa Gunturu dan Desa Tugondeng),

dan di barat, berbatasan dengan Kerajaan Kajang (sekarang Desa Lembanna).

Jika disesuaikan dengan batas administratif modern, wilayah Kerajaan Lembang dahulu meliputi sekitar 25% dari wilayah Kecamatan Kajang.

IV. Struktur Pemerintahan dan Kehidupan Adat

Struktur pemerintahan Kerajaan Lembang terbagi dalam tiga tingkat kekuasaan.

Level atas dipimpin oleh Karaeng Lembang, dan sepanjang sejarahnya tercatat 16 orang Karaeng yang pernah bertahta.

Level menengah terdiri atas dua pejabat penting bergelar Gallarrang, yaitu Gallarrang Lembang dan Gallarrang Jalaya.

Level bawah dipimpin oleh enam Kepala Kampung, masing-masing tiga di setiap wilayah gallarrang.

Untuk Gallarrang Lembang, wilayahnya mencakup:

  1. Kampung Tanetea,
  2. Kampung Kassibuta (dengan kepala bergelar Anak Karaeng Kassibuta),
  3. Kampung Torassi.

Sedangkan untuk Gallarrang Jalaya:

  1. Kampung Jalaya,
  2. Kampung Daloba,
  3. Kampung Kassi.

Selain struktur pemerintahan formal, terdapat pula tujuh pemangku adat yang berperan seperti dewan rakyat. Enam di antaranya merupakan tokoh masyarakat, dan satu orang disebut Lohayya, yaitu mantan Karaeng Lembang.
Tugas mereka meliputi:

  1. Memilih dan mengusulkan calon Karaeng Lembang kepada kerajaan induk,
  2. Mengusulkan pemberhentian Karaeng bila melanggar adat,
  3. Dan jika Karaeng berhalangan, Lohayya akan mengambil alih sementara hingga diadakan musyawarah bersama gallarrang dan kepala kampung untuk menentukan pengganti yang sah.

V. Para Karaeng yang Pernah Memerintah

Selama lebih dari lima abad keberadaannya, Kerajaan Lembang dipimpin oleh 16 orang Karaeng, yaitu:

  1. Puang Tamparang Daeng Malowang
  2. Puang Tau Kale Bajoa Daeng Mallebu
  3. Puang Toala Lembanglohe Daeng Maraja
  4. Puang Dade Daeng Bulaeng
  5. Puang Turaleng Daeng Massamma
  6. Puang Toni Daeng Marakka
  7. Puang Lungge Daeng Mattawang
  8. Puang Taki Daeng Mamase
  9. Puang Jaru Daeng Mattinri
  10. Puang Ammi Daeng Tagia
  11. Puang Padu Daeng Siutte
  12. Puang Badau Daeng Pasampa
  13. Puang Kurondong Daeng Magassing
  14. Puang Ambo Daeng Manak
  15. Puang Tobo Daeng Marappo
  16. Puang Sadda Daeng Malatte

Mereka adalah para pemimpin yang menjaga eksistensi Lembang selama lebih dari lima abad, hingga akhirnya kerajaan ini melebur dalam arus sejarah pada pertengahan abad ke-19.

PENUTUP

Demikianlah kisah panjang Kerajaan Lembang, kerajaan Q berdiri tegak sejak tahun 1300 hingga 1862—selama 562 tahun lamanya. Setelah lebih dari satu setengah abad “tertidur” dalam lembar sejarah, semangatnya kini bangkit kembali melalui Kerukunan Keluarga Besar Karaeng Lembang (KKBKL) yang menjadi wadah pelestarian nilai-nilai adat dan sejarah leluhur.

Kini, pada 23 Oktober 2025, genap 725 tahun usia Kerajaan Lembang—sebuah usia yang menegaskan betapa panjang dan dalam akar budaya serta sejarah masyarakatnya.

Read Entire Article
Finance | Berita| Koran| Selebritis|