Banyak investor bertanya apakah mungkin memperoleh pendapatan pasif dari saham tanpa harus aktif melakukan jual beli setiap saat. Salah satu jawabannya adalah melalui dividen saham sebagai passive income, yaitu pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham secara berkala.
Apakah Anda merupakan salah satu investor saham? Apakah Anda tahu bahwa saham bisa mendatangkan passive income untuk Anda?
Ternyata, investasi saham yang biasa Anda lakukan bisa mendatangkan passive income. Bagaimana caranya?
Artikel ini akan membahas bagaimana dividen bekerja, bagaimana cara menghitungnya, serta hal-hal penting yang perlu dipahami agar dividen benar-benar dapat menjadi sumber pendapatan pasif jangka panjang.
Passive Income
Ketika sedang merencanakan keuangan, Anda pasti sudah memikirkan bagaimana cara untuk mencapai kebebasan keuangan. Anda pun bertanya, apakah bisa mencapai kebebasan keuangan hanya dengan mengandalkan gaji saja? Perlu Anda ketahui, bahwa gaji merupakan pendapatan aktif di mana untuk mendapatkannya Anda harus bekerja menukarkan tenaga dan waktu yang Anda miliki.
Kemudian, Anda pun berkeinginan untuk mendapatkan kenaikan gaji. Tetapi, apakah kenaikan gaji mampu memenuhi kebutuhan dan juga rencana keuangan Anda kelak? Bayangkan berapa lama lagi Anda akan menempati posisi manajer? Apa saja proses yang harus dilalui untuk menempati posisi manajer? Kemudian Anda menyadari bahwa ketika sudah berada di posisi manajer, waktu pensiun sudah semakin dekat. Hal ini menyebabkan Anda tidak bisa menikmati seutuhnya posisi Anda sebagai manajer.
Lantas, bagaimana solusinya?
[Baca Juga: Peluang Usaha: Startup yang Memberikan Uang Dari Kendaraan Anda]
Perlu Anda ketahui bahwa kebebasan keuangan dapat diraih dengan berbagai cara, selain mengandalkan gaji atau pendapatan aktif saja. Caranya adalah dengan memiliki pendapatan pasif. Pendapatan pasif ini bisa Anda dapatkan dari bisnis atau usaha yang dibangun dan dijalankan tanpa perlu menukarkan tenaga maupun waktu Anda. Sederhananya, pendapatan pasif ini yang akan membantu jika Anda memutuskan untuk berhenti bekerja.
Anda masih tetap memiliki pendapatan karena ada sistem yang bekerja mencairkan uang untuk Anda. Anda bisa memulainya dengan cara mengonversikan pendapatan aktif ke aset-aset yang dapat menghasilkan pendapatan untuk Anda. Aset tersebut dapat berupa sebuah mesin atau sistem bisnis. Anda dapat membuat sistem tersebut sendiri atau dengan membelinya. Jika Anda tertarik untuk membuat sistem sendiri, maka Anda akan mengendalikan mesin bisnis dari A hingga Z.
Beberapa kelemahannya ialah dibutuhkan kompetensi yang tinggi, didukung oleh tim, biaya yang cukup mahal, dan waktu yang relatif panjang. Contohnya saat Anda memutuskan untuk membuka bisnis toko baju. Bagaimana jika Anda membeli sistem? Jika membeli sistem, maka waktu yang dibutuhkan relatif singkat, instruksi A hingga Z sudah jelas, tetapi Anda tidak memiliki fleksibilitas untuk merubah sistem yang ada. Contohnya, ketika Anda membuka waralaba makanan cepat saji.
Selain itu, jika Anda lebih tertarik untuk membeli sistem, maka hal yang harus diketahui ialah dengan berinvestasi saham. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan pendapatan pasif. Bagaimana caranya?
Dividen Saham sebagai Sumber Passive Income
Ketika berinvestasi saham, tentu saja Anda mengharapkan besaran keuntungan. Keuntungan atau tingkat pengembalian dari investasi saham ini bisa dibagi menjadi 2, yaitu capital gain dan dividen. Dalam konteks pendapatan pasif, dividen lebih sering dikategorikan sebagai passive income dibandingkan capital gain, karena dividen dapat diterima secara rutin tanpa perlu melakukan transaksi jual beli saham secara aktif.
Capital gain merupakan selisih harga jual lembar saham yang Anda miliki dikurangi harga beli lembar saham. Misalnya, Anda membeli saham Bank Rakyat Indonesia (BRI) di harga Rp2.900 dan Anda menjualnya di harga Rp3.500. Maka, capital gain yang diperoleh adalah Rp600 per lembar saham, atau dalam persentase sebesar 20%.
[Baca Juga: Mau Beli Iphone XS Max? Begini Simulasi Reksadana Dengan Aplikasi Finansialku]
Selain dari capital gain, Anda juga bisa mendapatkan imbal hasil lainnya dalam bentuk dividen. Dividen ini merupakan bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham. Sebagai investor saham, tentu saja Anda mengharapkan perusahaan yang dijadikan sebagai investasi mengalami keuntungan (laba) yang besar. Jika perusahaan membukukan laba yang besar, maka perusahaan dapat membagikan laba kepada pemegang saham ke dalam bentuk dividen. Nah, dividen ini yang bisa Anda jadikan sebagai passive income.
Karena Anda akan mendapatkan keuntungan dari laba perusahaan tanpa harus menukarkan tenaga dan waktu yang Anda miliki. Bagaimana cara menghitung dividen? Jumlah dividen yang dibagikan oleh perusahaan kepada pemegang saham ini merupakan selisih antara laba perusahaan dikurangi laba yang ditahan.
Laba ditahan merupakan laba yang ditahan oleh perusahaan untuk membiayai ekspansinya di kemudian hari. Berikut adalah perhitungan dividen:
- Dividen = laba bersih – laba ditahan
- Dividen per saham = dividen : jumlah saham yang beredar
Mana yang lebih baik? Jumlah dividen yang besar atau kecil? Sebagai pemegang saham Anda pasti tahu bahwa terdapat 2 tipe investor, yaitu investor jangka pendek dan investor jangka panjang. Jika Anda merupakan seorang investor jangka pendek, tentu Anda mengharapkan dividen yang besar. Begitu juga sebaliknya, jika Anda adalah seorang investor jangka panjang, Anda pasti tidak keberatan dengan dividen yang kecil selama perusahaan yang Anda investasikan dapat berekspansi.
Selain itu, Anda pun perlu menghitung dan mengetahui Dividend Payout Ratio (DPR). DPR ini merupakan persentase dividen terhadap laba bersih perusahaan. Perusahaan besar seperti HM Sampoerna (HMSP) atau Unilever Indonesia (UNVR) dikenal sebagai perusahaan yang DPR-nya bisa mencapai 100%. Jadi, seluruh laba perusahaan dibagi pada pemegang sahamnya. Bagaimana jika perusahaan sebesar HMSP dan UNVR melakukan ekspansi? Tenang saja, perusahaan seperti HMSP dan UNVR memiliki jumlah kas yang besar, sehingga perusahaan tidak lagi membutuhkan laba untuk ditahan. Perusahaan yang memiliki DPR kecil biasanya merupakan perusahaan yang sedang dalam masa ekspansi, sehingga perusahaan tersebut membutuhkan dana untuk membiayai ekspansi.
Growth company umumnya memberikan DPR sekitar 20 hingga 50 persen. Selain Dividen Payout Ratio, Anda pun harus mengetahui Dividend Yield dari perusahaan yang Anda investasikan. Dividend yield adalah dividen per saham yang dibagi harga pasar saham. Sederhananya, dividend yield adalah tingkat keuntungan yang diberikan oleh perusahaan tersebut.
Contohnya, Anda memiliki saham Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) yang memberikan dividen per saham sebesar Rp500, di mana harga pasar saat ini adalah Rp8.800. Maka, dividend yield ICBP adalah 5%. Perusahaan yang memiliki dividend yield tinggi, maka harga sahamnya akan mengalami kenaikan terutama saat pengumuman dividend.
Mana yang lebih penting di antara dividend payout ratio dan dividend yield? Jawabannya dividend yield, karena berkaitan dengan harga saham yang Anda miliki. Anda tentunya lebih menyukai perusahaan dengan tingkat return yang lebih besar. Hal yang harus Anda ingat ialah tidak semua perusahaan yang memiliki DPR tinggi akan memiliki dividend yield yang tinggi pula.
[Baca Juga: Begini Caranya Mendapatkan Passive Income Dengan Modal Kecil]
Selain itu, bentuk dividen pun dibagi menjadi dua, yaitu dividen tunai dan dividen saham. Dividen tunai ini diberikan dalam bentuk tunai, sedangkan dividen saham membagikan saham gratis kepada para pemegang sahamnya.
Di Indonesia sendiri, dividen dalam bentuk tunai lebih banyak dilakukan. Sedangkan, dividen saham akan diberikan jika posisi kas tidak memungkinkan untuk membagi dividen tunai dan dapat meningkatkan jumlah saham yang beredar.
Apakah Dividen Saham Benar-Benar Bersifat Pasif?
Dividen saham sering disebut sebagai salah satu bentuk passive income karena investor dapat menerima pembagian laba perusahaan tanpa perlu bekerja aktif setiap hari. Namun, penting untuk dipahami bahwa dividen tidak sepenuhnya bersifat pasif sejak awal.
Untuk dapat menikmati dividen secara rutin, investor tetap perlu melakukan sejumlah upaya di tahap awal, seperti memilih saham yang tepat, memahami kinerja dan fundamental perusahaan, serta memantau konsistensi pembagian dividen. Perusahaan yang rutin membagikan dividen umumnya memiliki arus kas yang stabil dan model bisnis yang matang, sehingga pemilihan emiten menjadi faktor krusial.
Selain itu, dividen juga bukan pendapatan yang bersifat pasti. Besaran dividen dapat berubah atau bahkan tidak dibagikan sama sekali, tergantung pada kinerja perusahaan dan keputusan manajemen. Oleh karena itu, meskipun dividen dapat menjadi sumber pendapatan pasif dalam jangka panjang, investor tetap perlu melakukan evaluasi berkala agar strategi investasinya tetap sejalan dengan tujuan keuangan.
Dengan kata lain, dividen saham dapat menjadi passive income yang relatif stabil jika didukung oleh perencanaan, pemilihan saham yang tepat, dan disiplin investasi, bukan semata-mata hasil instan tanpa keterlibatan sama sekali.
Sering Menganalisis akan Menguntungkan Anda
Jika Anda tertarik memulai investasi saham, melakukan analisis secara rutin merupakan langkah penting untuk memperoleh hasil yang optimal. Melalui analisis yang tepat, investor tidak hanya berpotensi mendapatkan capital gain, tetapi juga dapat membangun sumber pendapatan pasif dari dividen saham secara lebih terarah.
Salah satu pendekatan analisis yang umum digunakan adalah value investing, yaitu menilai saham berdasarkan fundamental perusahaan dan potensi jangka panjangnya. Dengan memahami kinerja bisnis, arus kas, serta kebijakan dividen perusahaan, investor dapat mengambil keputusan yang lebih rasional dan sesuai dengan tujuan keuangan.
Namun, tidak semua investor memiliki waktu, pengalaman, atau kepercayaan diri untuk melakukan analisis saham secara mandiri. Jika Anda ingin memastikan strategi investasi saham—termasuk pemilihan saham dividen—sudah sesuai dengan profil risiko dan rencana keuangan, konsultasi dengan perencana keuangan profesional dapat menjadi langkah bijak.
Melalui layanan Konsultasi Pendampingan Saham Finansialku, Anda dapat berdiskusi langsung dengan Certified Financial Planner (CFP®) untuk membahas strategi investasi saham, evaluasi portofolio, serta perencanaan pendapatan pasif dari dividen secara komprehensif. Gunakan Program Bookplan dari Finansialku. Jika Anda tertarik, hubungi Whatsapp 0851 5897 1311 atau klik banner di bawah ini ya!
Melalui Pendampingan Saham Finansialku, kamu tidak diarahkan untuk ikut-ikutan saham tertentu, melainkan dibantu memahami:
-
apakah saham yang kamu pegang masih layak dipertahankan,
-
kapan sebaiknya melepas dengan rasional,
-
dan bagaimana menyusun strategi investasi yang sesuai dengan tujuan dan profil risiko kamu.
Pendampingan ini tidak mengelola dana kamu. Semua keputusan tetap di tangan kamu, dengan bekal analisis dan kerangka berpikir yang lebih matang.
Dividen saham dapat menjadi salah satu sumber passive income yang menarik, terutama bagi investor yang memiliki tujuan jangka panjang. Namun, penting untuk memahami bahwa tidak semua saham cocok dijadikan sumber pendapatan pasif. Pemilihan emiten, pemahaman dividend yield, serta konsistensi investasi menjadi kunci utama.
Setelah membaca artikel ini, saya yakin Anda telah mengetahui bahwa passive income bisa berasal dari saham. Bagikan informasi ini kepada teman atau saudara Anda yang belum mengetahuinya. Semoga bermanfaat!
Sumber Referensi:
- Martha Christina. Mengenal Lebih Dekta Dengan “Dividen”. Poems.co.id – https://goo.gl/9BWMcr
Sumber Gambar:
- Passive Income Dari Saham 1 – https://goo.gl/jzBiR4
- Passive Income Dari Saham 2 – https://goo.gl/HZvdrd

4 days ago
10





















































