Investasi menjadi salah satu cara terbaik untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang. Namun, banyak orang terjebak dalam anggapan bahwa investasi pasti menguntungkan tanpa risiko investasi. Padahal risiko investasi adalah hal yang tak bisa dihindari. Justru dengan memahami jenis-jenis risiko, investor dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan terukur.
Pentingnya Mengetahui Risiko dalam Berinvestasi
Sebelum menanamkan dana, penting bagi setiap investor untuk memahami bahwa setiap instrumen investasi memiliki tingkat risiko yang berbeda. Pemahaman ini akan membantu Anda:
- Memilih instrumen yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan.
- Mencegah panik saat terjadi fluktuasi pasar.
- Membangun portofolio yang lebih seimbang dan tahan terhadap guncangan pasar.
- Menghindari investasi bodong atau skema yang menjanjikan keuntungan tinggi tanpa risiko.
Dengan kata lain, kesadaran akan risiko adalah kunci utama untuk menjadi investor yang cerdas dan terencana.
5 Jenis Risiko Investasi yang Harus Diketahui
Dalam dunia investasi, ada satu pepatah klasik yang selalu relevan: “High risk, high return.” Artinya, semakin tinggi potensi keuntungan, semakin tinggi pula risiko yang harus ditanggung.
Namun, banyak investor pemula yang hanya fokus pada imbal hasil tanpa memahami risiko yang menyertainya. Padahal, kesuksesan investasi jangka panjang bukan hanya soal memilih instrumen yang tepat, melainkan juga kemampuan mengelola risiko.
Manajemen risiko investasi membantu investor:
-
Mengantisipasi kerugian akibat gejolak pasar.
-
Menentukan strategi portofolio sesuai profil risiko.
-
Mencapai tujuan keuangan dengan lebih realistis dan berkesinambungan.
Oleh karena itu, sebelum menanamkan modal, sangat penting untuk mengenali berbagai jenis risiko investasi yang ada. Berikut adalah 5 jenis risiko utama yang wajib dipahami setiap investor.
1. Risiko Pasar (Market Risk)
Risiko ini berkaitan dengan fluktuasi harga pasar akibat faktor ekonomi, politik, atau sentimen global. Contohnya: saat IHSG turun karena krisis ekonomi, maka harga saham-saham cenderung ikut terkoreksi.
2. Risiko Likuiditas
Terjadi ketika investor sulit mencairkan investasinya karena tidak adanya pembeli atau proses penjualan membutuhkan waktu lama. Risiko ini sering ditemukan pada aset seperti properti atau saham di pasar dengan volume kecil.
3. Risiko Kredit (Credit Risk)
Risiko ini muncul saat pihak penerbit surat utang (obligasi) gagal membayar bunga atau pokok utangnya. Risiko ini umum terjadi pada obligasi korporasi yang tidak memiliki peringkat kredit baik.
4. Risiko Inflasi
Terjadi ketika laju inflasi melebihi imbal hasil investasi, sehingga daya beli hasil investasi menurun. Misalnya, jika inflasi 5% sementara imbal hasil deposito hanya 3%, maka secara riil Anda mengalami kerugian.
5. Risiko Valuta Asing (Currency Risk)
Jika Anda berinvestasi pada aset dalam mata uang asing, maka fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi hasil investasi. Contohnya, saat rupiah melemah terhadap dolar, investasi dalam dolar bisa untung (dan sebaliknya).
[Baca Juga: Calon Investor Merapat, Pahami 10 Risiko Investasi Saham dan Cara Atasinya]
Cara Mengatasi Risiko Investasi ala CFP
Sebagai seorang Certified Financial Planner (CFP), ada beberapa pendekatan yang direkomendasikan untuk mengelola risiko investasi secara efektif:
- Diversifikasi Portofolio
Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang. Gabungkan berbagai jenis instrumen (saham, obligasi, emas, reksa dana) untuk meminimalkan dampak dari satu risiko. - Kenali Profil Risiko Diri Sendiri
Apakah Anda tipe konservatif, moderat, atau agresif? Profil risiko ini akan menjadi dasar dalam pemilihan instrumen dan strategi investasi. - Tentukan Tujuan dan Jangka Waktu Investasi
Investasi untuk jangka pendek sebaiknya menggunakan instrumen rendah risiko seperti reksa dana pasar uang. Sementara investasi jangka panjang bisa menoleransi risiko lebih tinggi seperti saham. - Rebalancing Secara Berkala
Lakukan evaluasi dan penyesuaian portofolio secara berkala untuk menjaga alokasi aset tetap sesuai tujuan dan kondisi pasar. - Gunakan Prinsip Asset Allocation
Bagi aset investasi sesuai porsi dan karakteristik masing-masing, misalnya 40% saham, 30% obligasi, dan 30% pasar uang untuk investor moderat.
Tidak ada investasi yang benar-benar bebas risiko. Namun, dengan memahami dan mengelola risiko dengan strategi yang tepat, Anda bisa berinvestasi dengan lebih percaya diri dan terarah. Ingat, investasi bukan soal mengejar keuntungan cepat, tapi tentang meraih tujuan keuangan dengan cerdas dan bijaksana.
Jika membutuhkan saran investasi yang lebih komprehensif, jangan ragu untuk melakukan Konsultasi Review Investasi di Finansialku.
Financial planner kamu dapat membantu kamu menganalisis kesehatan finansial, mengelola aset, hingga merancang strategi pengumpulan dana pensiun. Untuk informasi lebih lanjut, kamu bisa menghubungi mereka di Whatsapp 0851 5897 1311.
Demikian pembahasan tentang risiko investasi. Bagaimana tanggapan Anda? Mari sampaikan di kolom kmentar di bawah ini.
Yuk, share artikel ini di media sosial untuk membantu teman kamu yang butuh inspirasi investasi yang cocok untuk mereka.