
Gubernur Papua Barat, Drs Dominggus Mandacan MSi, berharap Simposium Internasional Flora Malesiana ke-12 (The 12th International Flora Malesiana Symposium) dan Konferensi Solusi Iklim Berbasis Alam ke-1 (1st International Nature-Based Climate Solutions Conference) dapat membuahkan bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan pembangunan berkelanjutan di Papua Barat, khususnya yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat adat Orang Asli Papua (OAP).
Harapan ini dilontarkan Gubernur Papua Barat dalam pembukaan dua kegiatan internasional tersebut di Gedung PKK Papua Barat di Manokwari, Senin 09 Februari 2026.
Gubernur Papua Barat menegaskan telah menerapkan pembangunan berkelanjutan berbasis konservasi di Papua Barat, dengan menerapkan pendekatan pembangunan terpadu berbasis bentang alam dan laut (ridge to reef) sebagai strategi utama dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus mendukung pembangunan daerah.
Dengan begitu kegiatan internasional ini penting karena mengangkat isu strategis terkait keanekaragaman hayati, dan solusi iklim berbasis alam di tengah meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim dan pembangunan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan.
Gubernur Papua Barat membeberkan Papua Barat sebagai provinsi berkelanjutan memiliki karakter wilayah yang rentan, karena sekitar 60 persen wilayahnya berupa pegunungan dan perbukitan, sementara hutan alam yang masih tersisa lebih dari 70 persen tumbuh di atas lapisan tanah yang relatif tipis.
“Jika hutan ditebang, proses pemulihannya akan sangat lama dan berpotensi menimbulkan longsor, pencemaran sungai, serta mengancam kehidupan masyarakat, termasuk di wilayah pesisir,” katanya.
Gubernur Papua Barat tak lupa mengajak semua pihak menjaga kelestarian lingkungan. “Kita jaga hutan, hutan akan jaga kita. Kita jaga laut, laut akan jaga kita. Mari wariskan mata air, bukan air mata, bagi anak cucu kita,” ajak Dominggus Mandacan. (*)
Click here to preview your posts with PRO themes ››

20 hours ago
2































